RSS

Intermezo … suatu Sabtu siang kemarin

03 Mar

Siapapun tidak akan pernah bisa melupakan akarnya. Sekalipun berpendidikan tinggi,  memiliki karir hebat dan berpandangan moderen dimanapun kita berada saat ini.

Sabtu lalu, ada sebuah pengalaman menarik yang semakin meningkatkan ketertarikan saya : Mengapa harus bersikap arogan, terlebih terhadap orang sebangsa?

Begini ceritanya:

Saya bersama tiga orang menikmati late lunch di sebuah kedai makanan Thailand di pusat kota Stockholm. Ya..ketiga pria Indonesia ini asyik sekali bercakap-cakap dengan dialek Jawa Timuran. Lebih tepat Surabayaan yang sangat kental logatnya. Kalau anak Jakarta bilang sih  ‘agak jawir’ hehehe

Namun, mereka tetap bangga dengan ke-Jawaannya itu meskipun posisi mereka di sebuah perusahaan swasta asing itu sangat lumayan kalau tidak mau dibilang sombong ‘setara bos’. Yang satu, sebut saja A, memang asli bos di Jakarta yang sedang dikirim training 3 bulan ke Stockholm untuk meningkatkan kompetisi diri. Jika menyimak latar belakang sosok A ini, siapa dia dan latar belakang keluarganya, wihhh….saking rendah hatinya yang terlihat dari tutur kata dan penampilannya….tidak akan ada yang pernah menduga kalau si A berasal dari keluarga yang sangat terpandang. Dengan latar belakang keluarganya itu, sebenarnya si  A bisa ongkang-ongkang kaki tanpa harus bersusah payah membangun karir di sebuah perusahaan swasta yang bidangnya sangat berbeda dengan keluarganya.

Sementara untuk sosok pria kedua, sebut saja si B, sudah diakui kemampuannya bersaing dengan para pegawai lokal di unit bisnis tempat dia bergabung. Prestasi kerjanya diakui bukan hanya kantor pusat, namun kantor regional. Dia melepas semua kenyamanan karir di Indonesia untuk berkarir dari nol di Swedia. Hal yang sama dengan si A jika melihat latar belakang si B. Begitupula sosok si C yang melepas semua kenyamanan di Tanah Air dan baru menjejakkan kakinya meniti karir di Swedia.

A, B dan C adalah sosok-sosok yang rendah hati.

Ketika mereka berbahasa asing pun, lancar dan hampir tidak ada kesan dialek aseli mereka yang dibesarkan dalam keluarga Jawa meskipun mereka berdomisili dan dibesarkan plus pergaulan di Jakarta.

Mereka sangat bangga dengan ke-Indonesiaannya.

Ketika asyik bercakap-cakap dan memilih menu makanan, datanglah dua wanita. Satu bule dan satu berwajah Asia yang bisa kami duga orang Thailand, Philipina atau Indonesia. Mereka memutuskan untuk duduk di meja samping kami.

Awalnya kami pun tidak ambil pusing ketika pandangan kami yang penuh senyum menyapa sosok wanita berwajah Asia diplengosi. Hehe….maklum kadang diperantauan bertemu sosok-sosok berwajah mirip itu menghibur rasa rindu pada Tanah Air. Hal yang sama dirasakan oleh kawan-kawan saya berkebangsaan Thailand atau Philipina. Biarpun sering kali salah menduga asal negara saat bertemu di kawasan publik. Bentuk sapaan pun, bisa berupa senyuman.

Sementara, si wanita bule itu tersenyum dengan sangat ramah.

Kamipun tetap asyik bercakap-cakap ngalor ngidul dari yang penting sampai tidak penting. Topik-topik serius tentang Indonesia dengan bahasa campur-campur Suroboyoan dan Indonesia.

Karena bolak-balik mendengar kata Indonesia di sebut-sebut, dan meja kami yang bersebelahan, si wanita Asia terlihat bolak-balik mencuri dengar dengan wajah mengerti. Namun, ketika saya tidak sengaja bersirobok pandang, buru-buru dia melengos. Tanpa saya sadari, ketiga pria rumpi ini hehehe….juga menyadari sikap si wanita Asia tersebut. Dan, mereka pun tertawa terbahak-bahak, ketika menyimak percakapan kedua wanita tersebut. Tentu, dalam bahasa Inggris.

Berikut percakapannya :

Wanita bule (X ):  I think, those people are Indonesians.
Wanita Asia (Y) : yes, I know because they are talking about Indonesia.

X : so, you are Indonesian, right?

X: But, why don’t you say hello to them? I think they speak with special language beside Indonesian words. I know a little bit an Indonesian word from you. That’s why, I know that they are Indonesians.

Y: I dont want to say Hello because I m not so sure that they understand English. They talk in javanese. And, I am tourist and maybe they are not a student. Only, Indonesian students who study in abroad can speak English and when they hangout …mostly they speak slang Jakarta, elo gue, and Indonesia. Sometimes, combine with English.

X: but, your mommy come from Central Java, right. You ever mentioned it.

Y: yes, mommy from Java. But, daddy from USA. Daddy adopted me after he got married with mommy. But, mommy doesnt want me can speak or understand javanese, or I must …. mostly speak English
rather than Indonesian.

X: but, they still Indonesian, right? The people from same country with you.

Hoalaaaahhhh….. nduk ….. arogan sekali. Tiba-tiba saya teringat engan sosok Viki yang heboh dengan Vikinisasi dan cara bicara Cinta Laura.

Mungkin, kami terlalu ‘ndeso’ ya di benak si wanita berwajah Asia yang sangat khas tipe wajah wanita Jawa-Indonesia. Namun, kalau dia mau menyimak pernyataan terakhir kawan bulenya itu, seharusnya dia malu hati atas kesombongannya. Menyimak makna kata si bule, mengapa dengan sesama bangsa sendiri, tidak bersikap friendly.

Atau …. dia lagi sakit gigi …..hehehe …senyumnya sangat mahal ….

(20140301)

 
Leave a comment

Posted by on 2014/03/03 in My Personal Life

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Ailtje Ni Diomasaigh

Ramblings of an Indonesian Woman

Cerita4Musim♡

{ Every once in a while, in an ordinary life, love gives us a fairytale.....}

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Tio

Just wanna share my experience

%d bloggers like this: