RSS

Bagcholicious …

24 Feb

Tas batik lawasan karya Trasty Batik

Tas batik khas Cirebon karya Batik Cantik Cirebon (BCK)

Tas batik khas Cirebon karya Batik Cantik Cirebon (BCK)

Saya akui, saya pecinta tas. Bagcholic bahasa kerennya. Ya…siapa sih wanita yang tidak suka tas?? Hayooo … tunjuk tangan! Pastinya, saya akan serta merta tunjuk tangan🙂

Kecintaan saya pada tas bermula ketika saya mulai genit berdandan dan makin bertambah ketika saya punya penghasilan tetap per bulan. Yup … tas yang saya beli itu semuanya demi menunjang penampilan dan mempermudah pekerjaan. Pastinya, pekerjaan saya sebagai wartawan yang bermobilitas tinggi membutuhkan sebuah tas yang muat banyak barang, mulai dari tape recorder,kaset dan baterai cadangan, block note berikut alat tulis, gadget, mukena lipat, kotak make up yang bukan saja berisi perangkat bedak-lipstik dan lain-lain, tapi termasuk sikat gigi, pasta gigi, pantyliner, sabun muka dan sebagainya yang harus selalu tersedia di dalam tas. Intinya, size tas yang saya punya itu mayoritas berukuran besar, tipe tas dora emon atau istilah keren neverfull.

Model tas favorit saya itu harus berdisain simple, ada tali panjang yang bisa diselempang selain tali pendek yang bisa disandang dibahu dan harus ada kantong kecil beresleting di bagian luar atau samping tas untuk memudahkan menyimpan uang receh, tisue, atau bolpoin yang bisa segera diambil jika dibutuhkan cepat tanpa harus buka resleting utama tas atau dompet yang ada di dalam tas. Material bahan tas kesukaan saya itu sudah pasti kulit, mulai dari asli sampai imitasi, kanvas dan polyester yang tahan air semacam material tas merek Longchamp dan Kipling. Pilihan warna pun cenderung eye-catching agar mudah dikenali dan ditandai. Jika saya perhatikan, koleksi tas saya itu mayoritas berwarna coklat muda terang, merah tua, hijau, oranye dan biru turqoise yang kadang disertai motif garis-garis (lurik).

Tenun Maumere, Nusatenggara Timur karya Silva Bag

Tenun Maumere, Nusatenggara Timur karya Silva Bag

Pekerjaan saya yang sering menuntut saya ke beberapa daerah di Indonesia, menumbuhkan rasa cinta saya terhadap kerajinan daerah setempat, khususnya tas-tas yang bermaterial kain tradisional setempat. Hal yang sama ketika saya berdinas ke luar negeri. Saya bisa ‘mabuk kepayang’ dengan koleksi tas bermaterial kain tradisional yang motifnya sangat cantik. Terlihat sangat unik.

Lalu, bagaimana dengan tas branded ternama dunia? Pilihan saya hanya pada merek Kipling dan Longchamp karena saya suka material utama tas dan warna-warni. Desainnya pun simple dan elegan. Ringkes dan pantas di segala suasana. Untuk merek lainnya, saya memilih tidak, bukan karena saya tidak mampu membeli. Bisa saja sih saya membelinya, jika saya menabung super duper rajin. Hehehe…Tetapi, saya hanya fokus pada kenyamanan. Saya juga bukan tipe yang ‘menjudge’ kawan dari merek tas yang dipakai itu apa. Ibaratnya, saya berkawan baik dengan seseorang bukan dari tampilan dan tentengannya. Namun, saya juga akan lebih respect pada individu yang mencintai dan menghargai budaya asal-usulnya. Kalaupun dia pakai tas bermerek mahal, bukan karena ingin terlihat bermerek dan biar bisa diterima dalam kelompok pergaulan tertentu. Prinsipnya, be yourself dalam berfesyen.

Tas batik motif Garuda (Gurdo) karya Kaloka Bag

Tas batik motif Garuda (Gurdo) karya Kaloka Bag

Tas kain ulos-Sumatera Utara karya Kaloka Bag

Tas kain ulos-Sumatera Utara karya Kaloka Bag

Tas batik Lasem karya Trasty Batik

Tas batik Lasem karya Trasty Batik

 

 

 

 

 

 

Nah, ‘mabuk kepayang’ saya pada tas tradisional dengan disain moderen tetap berlangsung biarpun saya sudah sangat jauh dari Tanah Air. Terlebih, bisa dikatakan, disain tas di negeri ini cenderung seragam, termasuk warnanya. Ya…hampir semua wanita di sini, hampir sama pilihan model tasnya. Biarpun itu bermerek ternama dunia dengan harga ribuan Swedian Kronor, seperti LV, burberry, Guess dan MK. Yang kelas menengah pun ada, seperti Wera Stockholm, Esprit, Oceanis, Longchamp dan Mexx. Disainnya memang long lasting alias bisa dipakai kapan saja sampai beberapa tahun mendatang. Ya..karena tas lebih dilihat sebagai fungsi daripada fesyen.

Namun, eitssss….jangan salah ….semua wanita di belahan bumi manapun itu ditakdirkan sebagai pecinta tas. Terlebih, jika melihat sesuatu hal yang unik dan eye-catching. Tidak heran, jika mata saya sering bersirobok dengan mata wanita yang saya jumpai di bis atau underground train yang diam-diam melirik tas tradisional yang saya pakai. Biarpun, saya tidak tahu apa yang ada dibenak wanita itu. Boleh dong berpikir positif, pastinya dia mengaggumi🙂

Bahkan, kawan bule saya yang pernah saya beri hadiah tas kerajinan tangan Indonesia speechless, saking kagumnya. Apalagi setelah saya beri penjelasan bagaimana membuat kain tradisional sebagai bahan baku tas. Mulai dari batik tulis, cap dan songket tenun yang pakai tangan. Bukan material motif kain yang dibuat oleh mesin pabrik dan diimpor dari Cina. Lalu, proses pembuatan tasnya pun mayoritas pekerjaan tangan dibantu mesin jahit khusus atau jahit tangan yang tipenya customized sesuai permintaan konsumen. Bukan tas yang dibuat dalam jumlah banyak dengan mesin pabrik. Ga heran kan…kalau bule ini speechless? :))

Kegemaran saya akan tas ini, pelan tapi pasti mulai dipahami oleh suami sebagai hobi yang tidak bisa diganggu-gugat. Seperti saya yang tidak akan mengutak-atik kegemarannya akan game xbox. Biarpun, hobi saya ini tetap masih dalam perhitungan saya, yakni fungsi, harga dan perlu atau tidak saat ini. Maklum, semuanya harus sesuai anggaran dan prioritas hidup. Terlebih, hidup di negeri orang yang penuh dengan tantangan. Well financial planning yang saya terapkan demi mengakomodir kegemaran saya akan tas.

Saat tulisan ini dibuat, saya sambil mengenang sebagian koleksi tas yang masih ada di Tanah Air yang masih sering dirawat oleh ibu (thanks, Mom!) dan sewaktu-waktu dipakai oleh adik. Plus, sambil memperhatikan koleksi tas yang sedang saya angin-anginkan supaya lebih terawat.

Hmmmm…. I think that I still fall in love with an Indonesian bag. I do not know when I can stop it.😉

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Ailtje Ni Diomasaigh

Ramblings of an Indonesian Woman

Cerita4Musim♡

{ Every once in a while, in an ordinary life, love gives us a fairytale.....}

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Tio

Just wanna share my experience

%d bloggers like this: