RSS

Teguran Itu Datang — Kisah Mukena Lipat

12 Jan
source : google

source : google

Beberapa tahun lalu, kami bertiga hangout di Plaza Senayan. Saat shalat magrib telah tiba. Saya dan kawan wanita beranjak ke mushalla yang sangat nyaman. Kawan saya yang Katolik berkenan menunggu di kafe yang sejak sejam sebelumnya menjadi tempat berumpi ria.

Magrib di Plasa Senayan pastilah penuh dan membutuhkan waktu yang ‘cukup lama’, khususnya para perempuan. Ya…bisa memakan waktu 15-30 menit.

Setelah itu, kami kembali ke kafe tersebut. Kawan kami yang setia bertanya mengapa selalu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk shalat magrib. Saya santai saja menanggapi pertanyaannya. Cuma, kawan saya yang satu lagi—yang baru mengenalnya dibandingkan saya dan ‘agak fanatik’—agak ‘tersinggung’ dan ketus menjawab pertanyaan tersebut. Dia menjelaskan karena kami harus antri giliran pinjam mukena yang disediakan oleh pihak pengelola mushala. Bla…bla…bla….

Kawan Katolik saya ini sabar dan tenang mendengar penjelasan tersebut. Dia hanya berkata lugas namun sangat mengena di hati saya dan kawan yang ‘agak emosi jiwa’. Jleb deh!

Mau tahu apa yang dikatakan kawan Katolik saya tersebut?

Dia bilang : ”Gue cuma heran ma elo berdua. Plus cewe-cewe muslim lainnya yang kaya elo-elo. Tas elo gede-gede (size, red) dan keren. Muat dompet make up yang isinya komplit. Muat notebook. Muat macem-macem. Masa mukena lipat yang mungil-mungil aja ga bisa elo bawa sih? Seberat apa sih tu mukena! Emang berat? Kan, ga ada sekilo. Kan, gue banyak liat tu di Tanah Abang yang jual. Keren-keren. Gue anggap mukena buat cewe muslim kan baju yang bagus buat menghadap Tuhan elo. Eh….buat menghadap Tuhan elo aja yang sudah ngasih elo rejeki, pakai mukena pinjaman. Ihhhh….kan belum tentu bersih. Kita aja mau hangout…siapa tahu ketemu cowo keren…suka ribut dandan, maunya pakai baju terkeren. Ketawan pinjaman? Gengsi dehhhhhh…..engga lah yaw!!! Percuma elo-elo pada punya dan bawa tas gede-gede. Itungan banget sih elo ma Tuhan elo!”

Saya pun terdiam seribu bahasa dan membenarkan semua perkataannya. Dan, sejak saat itu, selalu ada mukena mungil di dalam tas dora emon saya yang setia menemani tugas kewartawanan atau window-shopping/hang-out.

Kesimpulannya…ladiesss….tidak selalu teguran Allah kepada saya untuk tetap berbuat baik itu datang dari saudara se-muslim.

 
4 Comments

Posted by on 2014/01/12 in My Personal Life

 

4 responses to “Teguran Itu Datang — Kisah Mukena Lipat

  1. helgaindra

    2014/02/11 at 3:47 pm

    noted, besok besok kalo mau pergi baw sarung sekalian ah
    kadang masih ragu kalo make celana yang kita sendiri kadang gak tau udah najis apa belom
    nice post, btw!

     
    • tutut25

      2014/02/11 at 3:58 pm

      Terima kasih commentnya🙂

      Saya juga senang karena ternyata pengalaman saya menginspirasikan orang lain.

      Hehe.. Saat saya dapat teguran itu rasanya ‘makjleb’ di hati🙂

       
  2. Neng Ucrit

    2014/02/11 at 2:51 am

    mbak, saya suka sekali postingannya ^^

     
    • tutut25

      2014/02/12 at 8:38 am

      🙂 makasih yaaaa

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Ailtje Ni Diomasaigh

Ramblings of an Indonesian Woman

Cerita4Musim♡

{ Every once in a while, in an ordinary life, love gives us a fairytale.....}

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Tio

Just wanna share my experience

%d bloggers like this: