RSS

Apa Sih Diaspora Indonesia itu?

14 Jun

Akhir-akhir ini marak sekali uraian mengenai diaspora Indonesia. Bisa jadi pihak yang memahami arti sesungguhnya Diaspora Indonesia itu sang penggagas dan pemilik ide konsep pemikiran tersebut.  Pihak lain, termasuk saya bisa dikatakan ada yang mengerti ‘setengah-setengah’  saja, biarpun saya sudah dapat penjelasan langsung tentang defenisi, ide dan konsep diaspora itu dari sumber yang dapat diakui integritas wawasannya. Bahkan ada yang sebenarnya tidak mengerti sama sekali tetapi memaksakan diri untuk mengerti agar dilihat atau terlihat ‘elit’ dan pintar.

Ada sebuah kritik pedas yang disampaikan oleh beberapa perantau di luar negeri namun tidak berani diutarakan karena mereka sudah ‘memastikan diri’ opini mereka tidak akan didengar hanya karena mereka bukan berasal dari golongan masyarakat yang katanya berpendidikan tinggi dengan gelar berderet’ atau bekerja di sektor formal dengan titel mentereng di perusahaan ternama/terkenal di negara dimana mereka menetap saat ini.

Dengan kata lain, opini mereka bakal dipandang sebelah mata karena mereka sudah ‘dihakimi’ bahwa mereka ‘bukan siapa-siapa’ karena mereka bukan pelajar/mahasiswa dan bukan pegawai kantoran elit. Mereka hanya ibu rumah tangga, pramusaji, pengasuh anak, asisten rumah tangga dan sebagainya. Kesamaan mereka hanyalah ‘sama-sama menyandang titel masyarakat perantauan’.

Namun, golongan masyarakat yang dipandang ‘sebelah mata’ ini sebenarnya   yang bisa dikatakan kelompok masyarakat yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat lokal yang tidak kenal batas waktu seperti pegawai kantoran atau pelajar.

Contohnya saat ibu-ibu ini mengantar anak atau ada pertemuan orangtua murid atau ke dokter. Para asisten rumah tangga yang berjuang menyesuaikan diri dengan nyonyanya dengan segala keterbatasan pemahaman akan hak dan aspek hukum yang dapat melindungi mereka dari kekerasan.

Namun, kelompok ini juga  tetap  mengikuti perkembangan situasi dan kondisi di Tanah Air dan memahaminya dengan pola pikir yang sederhana. Termasuk sosialisasi diaspora Indonesia yang dipaparkan oleh para perwakilan Pemerintah Republik Indonesia di luar negeri.

Kritisi yang disampaikan oleh mereka adalah konsep Diaspora Indonesia tampaknya hanya disasarkan dan menyentuh kelompok-kelompok masyarakat Indonesia di perantauan yang tanpa disadari sudah ‘mendefenisikan diri sebagai kelompok eksklusif dan elit’, yakni kelompok masyarakat yang bekerja dan bergerak di sektor formal.

Padahal, setiap individu Indonesia yang berada di perantauan adalah ‘perwakilan kepribadian Indonesia’. Setiap individu punya cara berbeda untuk tetap menunjukkan kebanggaan pada Tanah Air. Termasuk cara ‘survival’ saat menghadapi persoalan kehidupan sebagai perantau di negeri orang.

Akhirnya pemahaman saya tentang konsep ini adalah sebatas adanya pengeksklusifan kelompok-kelompok tertentu, yakni kelompok kerah putih dan kerah biru.

Padahal tolak ukur kesuksesan setiap individu yang merantau di negeri orang itu berbeda-beda. Bagi karyawan swasta, bisa jadi berhasil memimpin di sebuah divisi tertentu dengan anak buah orang lokal. Artinya dia mampu menunjukkan kemampuan performa karirnya yang setara bahkan banyak yang lebih dari orang lokal.

Bagi asisten rumah tangga, kesuksesan bisa dilihat dia berhasil mendapatkan majikan yang baik bahkan memberikan kesempatan berkembang menggali seluruh potensi dirinya agar tidak selamanya menjadi asisten. Atau dia berhasil diperlakukan dengan baik dengan diberikan hak-haknya. Dengan kata lain, pulang ke Indonesia selamat, bukan korban penyiksaan atau tinggal jasad.

Dengan kata lain, diaspora Indonesia bukanlah sekedar konsep, seminar atau kegiatan kumpul-kumpul formal semata. Banyak contoh persoalan kehidupan yang lebih membumi yang dialami oleh para perantau di negeri orang daripada hanya bercerita tentang sebuah kisah sukses atau kegagalan. Karena tolak ukurnya pun beragam.

Hanya ada sebuah kesamaan yang dialami oleh para perantau di negeri orang. Siapapun dia dan apapun profesinya. Bukan lagi aktif melakukan pembuktian diri dalam bentuk posisi atau jabatan. Dalam keseharian, ketika berada dalam kelompok multikultural di sebuah negara termasuk orang lokal di dalamnya, adalah pembuktian diri kalau orang Indonesia tidak seperti yang mereka remehkan selama ini atas segala kemampuan yang dimilikinya. Itupun disebabkan karena banyak juga yang tidak tahu Indonesia dengan baik. Mulai dari pemahaman geografi, budaya sampai kepada pemahaman kalau Indonesia tidak ‘seprimitif’ yang dikira.

Plus, para perantau ini juga harus mampu meluruskan pemahaman yang salah tentang situasi kondisi politik di Indonesia yang (bagaimanapun juga) suka terlalu berlebihan oleh media asing. Termasuk tetap berani ‘angkat muka’ dan menahan malu karena begitu banyak para oknum pejabat publik yang berkarakter memalukan selama ini.

Jadi diaspora Indonesia lebih luas pemahamannya. Bukan sebuah konsep indah belaka. Dan, wajah Diaspora Indonesia bukan hanya milik sekelompok orang saja. Seharusnya, sesuai dengan prinsip dasar keanekaragaman, yakni selaras dengan Bhineka Tunggal Ika. Namun, pemikiran saya pasti berbeda dibandingkan dengan pemikiran para orang-orang pintar tersebut.

Have a nice day, Indonesiaku!!

 
Leave a comment

Posted by on 2013/06/14 in Tentang Indonesia

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Ailtje Ni Diomasaigh

Ramblings of an Indonesian Woman

Cerita4Musim♡

{ Every once in a while, in an ordinary life, love gives us a fairytale.....}

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Tio

Just wanna share my experience

%d bloggers like this: