RSS

Tour De Padang – Bukit Tinggi

12 Aug
Image

Jam Gadang Bukit Tinggi
(source : Istimewa)

Propinsi Sumatera Barat menjadi salah satu daerah yang ingin saya kunjungi. Mengapa? Karena saya ’terlena’ dengan semua cerita keindahan pemandangan menuju Bukit Tinggi dari Padang dimana terdapat air terjun Lembah Anai dan Ngarai Sianok, jam gadang di Bukit Tinggi, keindahan kain songket khas Pandai Sikek, kenikmatan masakan Padang dan keripik Sanjainya.  Saya akrab dengan semua itu mengingat saya punya banyak kawan yang berdarah Sumatera Barat.

Dan, impian saya itu pun akhirnya terwujud.

April 2008, empat tahun lalu, saya berkesempatan berwisata ke sana bersama seorang kawan wanita. Dengan mobil sewaan, kami menuju Bukit Tinggi. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar 2-3 jam dari kota Padang, ibu kota propinsi Sumatera Barat.

Sepanjang perjalanan menuju Bukit Tinggi, mata saya disuguhi berbagai pemandangan indah berupa perbukitan hijau, rumah-rumah sederhana beserta kehidupan masyarakat kota kecil yang masih asli dan asri. Serunya, saya juga melihat atraksi mobil angkutan kota yang badannya penuh gambar-gambar dengan warna yang aktraktif  yang menyetel musik hingar bingar. Ya, Sumatera Barat memang terkenal dengan angkot yang ’berisik’ dan atraktif itu.

Sampailah saya di air terjun lembah Anai yang terkenal itu. Mobil pun berhenti sejenak untuk menikmati percikan air terjun tersebut. Lumayan sekali untuk melepas penat sebelum melanjutkan perjalanan. Sungguh menyenangkan mendengar suara percikan air.

Lembah Anai yang berada di sisi kiri jalan dari arah Padang ini juga sangat terkenal dengan rel kereta api tua buatan Belanda yang melintas di atas jalan utama Padang-Bukit Tinggi.  Setelah cukup lama beristirahat di Lembah Anai, perjalanan saya lanjutkan menuju Ngarai Sianok.

Ke Bukit Tinggi pastinya juga mengunjungi Ngarai Sianok. Tidak boleh terlewatkan. Terutama bagi saya yang pernah belajar geologi dan geomorfologi saat berkuliah di jurusan Geografi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Indonesia. Selama ini, saya hanya dapat mempelajari proses pembentukan Ngarai Sianok dari berbagai literatur geologi dan geomorfologi yang ada. Proses patahan dan lipatan permukaan bumi yang terjadi pada puluhan ribu tahun lalu lah yang memengaruhi bentukan Ngarai Sianok saat ini. Saya hanya bisa terdiam terpaku memandangi bentukan bumi semacam Ngarai Sianok.

Sungguh sulit dipercaya jika Ngarai Sianok itu berasal dari proses patahan permukaan bumi yang ekstrim yang membuat banyak jurang-jurang seperti yang kita lihat saat ini, dimana pada satu sisi juga terjadi proses pengangkatan permukaan bumi yang dulunya itu merupakan dasar sungai purba? Seperti itu informasi yang pernah saya pelajari. Gempa tektonik yang super duper dahsyat yang menjadikan bentuk Ngarai Sianouk seperti saat ini sekarang.

Setelah puas menikmati pemandangan ngarai yang namanya hampir mirip dengan nama Perdana Menteri Kamboja—Norodom Sihanouk–, saya berkesempatan mengunjungi Gua Jepang.

Gua Jepang adalah bukti sejarah pendudukan Jepang yang masih tersisa hingga sekarang. Lubang gunung yang berdinding batu keras ini panjangnya puluhan meter.  Dengan rongga berbentuk setengah lingkaran yang rata-rata tingginya sekitar dua meter itu kecuali beberapa rongga yang memaksa para pengunjung membungkuk untuk melewatinya.

Gua ini dulunya memiliki fungsi strategis bagi serdadu Jepang. Lorong masuknya sangat dalam dan panjang. Ada sekitar 128 anak tangga untuk turun ke bawah sebelum akhirnya para pengunjung melewati ruang demi ruang Gua Jepang itu. Laksana ‘rumah semut tanah’, para pengunjung akan melewati beberapa lorong gua yang bercabang-cabang. Memang tak begitu rumit bagi yang mengetahui gua ini, tapi buat orang yang belum pernah melintasinya lumayan membingungkan. Saat di dalam, pengunjung tak akan bisa membedakan antara pagi, siang, atau malam. Lorong-lorong diberi penerangan lampu neon.

Gua Jepang itu terbagi dalam beberapa kamar. Mulai dari lorong untuk rapat mereka, tempat makan hingga kamar para tahanan yang orang Indonesia. Ada 12 barak militer, 12 tempat tidur, 6 buah ruang amunisi, dua ruang makan romusha dan satu ruang sidang. Yang unik adalah, karena lorong gua ini punya beberapa saluran untuk ke atas tanah, beberapa lorong dipakai sebagai lorong penyergapan dan pengintaian bagi para penduduk Indonesia yang kebetulan melintasi daerah itu.

Ada sebuah lubang yang dijadikan untuk pembuangan para korban yang jelas telah berupa mayat. Lubang ini sudah diperkecil dengan semen agar tak berbahaya buat pengunjung sekarang. Kabarnya, dulu, di lubang ini pernah ada orang luar negeri yang jatuh terperosok, Lumayan menyeramkan. Bila seseorang terperosok masuk lubang, ia akan langsung ke bibir jurang Ngarai Sianok, dan kemudian menghilang untuk selamanya.

Gua yang ditemukan tahun 1942 hingga 1945 ini berisi banyak orang dari berbagai kepulauan di Indonesia yang menjadi tahanan di gua ini. Untuk menjaga kerahasiaan gua pada masa itu, orang Indonesia yang pernah datang akan dibungkam selamanya agar tak ada yang bisa bercerita atau bersaksi.

Di depan gua yang diresmikan sebagai objek wisata oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan pada tanggal 11 Maret 1986 itu, terdapat taman Panorama, yang selain berupa tempat yang rindang, juga tempat bercengkerama dan berjualan cenderamata. Taman yang merupakan bagian dari areal Ngarai Sianok ini dihiasi pepohonan. Kera-kera liar kerap muncul untuk mendapatkan makanan dari para pengunjung.

Saya cukup merinding saat menyusuri Gua Jepang ini. Tidak berani membayangkan perasaan dan suasana yang dialami oleh para tawanan tentara Jepang, notabene para penjuang kemerdekaan Republik Indonesia, saat disiksa oleh para tentara Jepang. Terlebih, saat menyusuri seluruh bagian Gua Jepang ini didominasi oleh suasana remang-remang dan suram.  Saya pun senang saat kembali berhasil mencium udara segar setelah berpetualang di Gua Jepang ini.  Di depan pintu keluar gua ini, saya hirup udara sebanyak-banyaknya dan siap-siap melakukan perjalanan ke pusat kotanya Bukit Tinggi. Pastinya, menara jam gadang dan pasar tradisional—Pasar Atas-Bawah—menjadi tujuan utama berwisata di Bukit Tinggi.

Di Pasar Atas-Bawah ini, saya menemukan sate Padang yang maknyus dan es campur yang baik rupa maupun rasanya tidak akan pernah bisa saya temukan di Jakarta. Kedai sate Padang dan es campur ini sangat ramai pengunjung sehingga saya pun harus rela dan sabar mengantri menunggu kedua pesanan terhidang di meja. Semua keletihan dan kepenatan saat perjalanan terbayar sudah dengan menikmati sepiring Sate Padang dengan taburan bawang goreng yang renyah plus kerupuk kulit sapi dan es campur. Slurrpppp…sungguh nikmat dan menyenangkan perjalanan, tour de Padang-Bukit Tinggi ini.

Esok harinya, saya menuju Pandai Sikek saat perjalanan pulang ke Padang. Pandai Sikek sangat terkenal dengan kerajinan kain songket khas Sumatera Barat. Sebagai pengkoleksi kain tradisional Indonesia, Pandai Sikek adalah tempat berbelanja favorit saya. Tentunya, harga jual kain songket di kota kecil ini belum semahal jika dijual di butik atau toko di kota Padang atau kota besar lainnya di Indonesia, seperti Jakarta. Karena saya membelinya langsung dari pengrajin dan koperasi pengrajin kain songket. Ada rupa, ada harga. Setiap kain songket memiliki harga yang berbeda, tergantung dari bahan baku dan proses pembuatannya. Sungguh cantik melihat kain-kain songket yang didominasi warna merah dan benang emas. Setelah puas di Pandai Sikek, saya menuju Istana Pagaruyung yang sempat terbakar habis itu. Di Istana Pagaruyung ini, sedikit banyak saya belajar tentang sejarah kesultanan Pagaruyung yang mempengaruhi ’warna’ wajah Sumatera Barat saat ini.  Sungguh sayang jika bangunan khas yang kental dengan Tanduk Kerbau ini tidak dirawat dengan baik, terutama oleh keluarga dan kerabat Istana Pagaruyung.

Tidak jauh dari Istana Pagaruyung, dalam perjalanan menuju Padang, saya singgah di rumah makan yang menawarkan nasi kapau asli. Di rumah makan ini, saya berkesempatan mengetahui apa dan seperti apa Nasi Kapau yang sebenarnya itu dan proses pembuatannya. Ternyata sangat berbeda dengan nasi kapau yang ada di berbagai restoran Padang di Jakarta.  Nasi kapau asli ini legit dan manis, bukan hanya sekedar nasi putih. Makin nikmat disajikan dengan sambal hijau plus kuah gulai. Wuihhh…tanpa sadar, saya memakan 2 piring nasi kapau sambil mendengarkan celotehan pemilik rumah makan yang bercerita masakan Padang yang sesungguhnya J Saya dan kawan perjalanan memilih istirahat dengan tidur sejenak di mushala dekat rumah makan tersebut. Lumayan untuk mengembalikan enerji tubuh sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

Sesampai di kota Padang, saya pun mampir ke tepi pantai Padang. Mata saya sebebas-bebasnya memandang samudera India itu. Ombaknya yang cukup besar membuat saya bergidik ngeri.

Saat cuaca normal, ombak besar bergulung-gulung. Kebayang jika cuaca tidak normal semacam badai laut atau sedang air pasang laut. Pastinya, gulungan ombak makin besar dan tinggi. Tidak heran, jika saat badai, air laut membanjiri kawasan pantai dan pesisir bahkan air pun bisa sampai ke pusat kota Padang. Mengapa? Karena bentukkan kota Padang itu bagaikan wajan penggorengan yang cekung. Dan, penahan air laut itu hanya bebatuan tinggi yang tidak akan terlihat jika sedang terjadi pasang tinggi.

Matahari terbenam di tepi pantai Padang ini mengakhiri Tour De Padang-Bukit Tinggi. Saya pun kembali menuju hotel untuk beristirahat sebelum terbang ke Jakarta.

 
Leave a comment

Posted by on 2012/08/12 in My Personal Life

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Ailtje Ni Diomasaigh

Ramblings of an Indonesian Woman

Cerita4Musim♡

{ Every once in a while, in an ordinary life, love gives us a fairytale.....}

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Tio

Just wanna share my experience

%d bloggers like this: