RSS

Filosofi Gunungan Wayang

18 Jun

Sebagai wanita berdarah Jawa, saya harus mampu memahami dan memaknai lalu menerapkan filosofi gunungan yang biasa digunakan sebagai tanda pembuka dan penutup acara wayang orang atau kulit.

Saya mendapatkan info ini dari seorang kawan. Ternyata, maknanya sangat dalam dan menarik sekali, yakni mendidik setiap individu di muka bumi bagaimana menjadi manusia yang sebenarnya dan seutuhnya🙂

Berikut penjelasannya :

Gunungan Jawa (source: Istimewa-Google)

Filosofi Gunungan Wayang :

Gunungan berbentuk kerucut (lancip), disini melambangkan kehidupan manusia, semakin tinggi ilmu kita dan bertambah usia, kita harus semakin mengerucut (golong gilig) manunggaling Jiwa, Rasa, Cipta, Karsa dan Karya dalam kehidupan kita. Singkatnya, hidup manusia ini untuk menuju yang di atas (Tuhan).
Gapura dan dua penjaga (Cingkoro Bolo dan Bolo Upoto), lambang hati manusia ada dua hal yaitu baik dan buruk. Tameng dan godho yang mereka pegang dapat di intrepertasikan sebagai penjaga alam gelap dan terang.

Hutan (pohon) dan binatang, lambang dari berbagai sifat dan tabiat manusia.

Pohon yang tumbuh menjalar keseluruh badan dan ke puncak Gunungan melambangkan segala budi-daya dan perilaku manusia harus tumbuh dan bergerak maju (dinamis) sehingga bisa bermanfaat serta mewarnai dunia dan alam semesta ( Urip iku obah, Obaho sing ngarah-arah). Pohon itu juga melambangkan bahwa Tuhan telah memberi pengayoman dan perlindungan bagi manusia yang hidup di dunia ini.

Burung melambangkan manusia harus membuat dunia dan alam semesta menjadi indah dalam spiritual maupun material.

Banteng melambangkan manusia harus kuat, lincah, ulet dan tanguh.

Kera melambangkan mausia harus mampu memilih dan memilah antara baik-buruk, manis-pahit seperti halnya kera pintar memilih buah yang baik, matang dan manis, sehingga diharapkan kita bertindak yang baik dan tepat ( bener tur pener).

Harimau melambangkan manusia harus menjadi Pemimpin bagi dirinya sendiri (punya jati diri) sehingga harus mampu bertindak bijaksana dan mampu mengendalikan nafsu serta hati nurani untuk menuju yang lebih baik dan maju, sehingga bisa bermanfaat untuk diri sendiri, orang lain dan alam semesta.

Karena bila manusia tidak mampu menjadi Pemimpin bagi dirinya sendiri dan tidak mampu mengendalikan diri sendiri akan berakibat fatal dan semua akan hancur musnah seperti halnya Gunungan wayang bila dibalik akan menjadi berwarna merah menyala (terbakar).

Gambar kepala raksasa melambangkan manusia dalam kehidupan sehari-hari mempunyai sifat rakus, jahat seperti setan.

Gambar ilu-ilu Banaspati (jin atau setan) melambangkan bahwa hidup di dunia ini banyak godaan, cobaan, tantangan dan mara bahaya yang setiap saat dapat mengancam keselamatan manusia.

Gambar samudra melambangkan pikiran manusia.

Gambar rumah joglo melambangkan suatu rumah atau negara yang didalamnya ada kehidupan yang aman, tenteram, dan bahagia.

 
Leave a comment

Posted by on 2012/06/18 in Tentang Indonesia

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Ailtje Ni Diomasaigh

Ramblings of an Indonesian Woman

Cerita4Musim♡

{ Every once in a while, in an ordinary life, love gives us a fairytale.....}

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Tio

Just wanna share my experience

%d bloggers like this: