RSS

Harus Bisa

25 Apr

Menyerah?

Bagi saya tidak ada kata menyerah sekalipun sangat berat dijalankan. Mungkin lebih tepat harus bersabar saja. Ya, saya bisa dikatakan individu yang ‘tidak sabaran’ tetapi bukan juga individu yang suka ‘instan’. Saya tetap percaya pada sebuah proses. Saya sangat menghargai sebuah proses yang harus dilalui. Namun, ketidaksabaran itu hanya terletak pada ‘panjang-pendek’ nya jangka waktu proses tersebut. Seringkali saya suka ingin ‘melompat’ beberapa tahapan sebuah proses. Apalagi jika pelaksana proses itu ‘terkesan bertele-tele’.

Saya ‘cukup bangga’ dengan pencapaian kemampuan berbahasa Swedia saya. Untuk pendatang yang baru menetap 10 bulan di negaranya Björn Borg ini, ‘berani’ atau lebih tepatnya nekat bercakap-cakap dalam bahasa Swedia dengan sesama pendatang di Svenska För Invandrare (SFI)–sekolah bahasa Swedia yang disediakan khusus oleh Pemerintah Swedia untuk para pendatang dengan status penduduk tetap yang memiliki nomor wajib pajak (personnummer, red)– atau tetangga apartemen, banyak yang mengatakan saya ‘hebat’ namun  saya tetap harus terus memperbaiki diri. Tidak mungkinlah saya membandingkan diri dengan pendatang yang sudah bertahun-tahun tinggal di Swedia—itupun ada juga yang belum terlalu fasih.

Ketika seorang kawan bertanya alasan ketekunan saya belajar bahasa Swedia, jawabannya sangat sederhana yakni mampu berbahasa Inggris dengan fasih di Swedia itu sangat tidak cukup jika ingin ‘survive’ hidup di negara ini. Sekalipun banyak orang Swedia mampu berbahasa Inggris, namun bercakap-cakap dengan bahasa mereka itu lebih baik. Khususnya untuk memudahkan dalam penerimaan dan adaptasi dengan lingkungan sosial dan budaya yang bakal mewarnai keseharian saya.

Sebetulnya sama saja jika ada orang asing yang ingin menetap di Indonesia. Sayangnya, sebagian orang Indonesia sendiri bisa disebut ‘tidak cukup bangga’ dengan bahasa Nasionalnya. Masyarakat Swedia sangat menyadari pentingnya mampu berbahasa Inggris sebagai bagian dari penduduk dunia, alias bahasa internasional. Namun, bahasa Swedia tetap sangat penting dalam keseharian kehidupan mereka di segala sektor, formal maupun informal.

Seharusnya, berbahasa Inggris yang fasih di Indonesia juga tidak cukup buat pendatang yang menetap di Tanah Air-ku.  Bahkan, bila perlu mereka juga ‘diwajibkan secara tidak sengaja’ atau dengan kata lain ‘mau tidak mau, harus berbahasa Indonesia’ dalam keseharian mereka di Indonesia.

Saya sulit mengutarakannya dengan kata-kata bagaimana situasi dan kondisi negara Swedia berikut masyarakat umumnya (mengingat saya hanya wanita biasa yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga) seperti ‘memaksa’ saya untuk bisa menguasai bahasa sini. Ambience keseharian kehidupan masyarakat Swedia membuat siapapun ‘tertantang’ untuk mempelajarinya segera jika mau ‘survive’ hidup di sini. Berdasarkan pengalaman banyak kawan sesama pendatang dari berbagai negara, bisa-bisa timbul ‘rasa frustrasi’ jika tidak menguasainya. Ya, untuk pemula seperti saya, setidaknya percakapan sederhana saja dahulu.

Pastinya, saya tidak mau menyerah dengan ‘keterbatasan’ bahasa Swedia saya saat ini!

Happy Day🙂

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on 2012/04/25 in Cerita Saya, Me and Sweden

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Ailtje Ni Diomasaigh

Ramblings of an Indonesian Woman

Cerita4Musim♡

{ Every once in a while, in an ordinary life, love gives us a fairytale.....}

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Tio

Just wanna share my experience

%d bloggers like this: