RSS

Katura AR: Saya Lebih Senang Dipanggil Seniman, daripada Pebisnis!

17 Jan

Bapak Katura AR dengan karya batiknya (oleh Tutut Handayani, Maret 2011)

Sosok yang terlihat sangat sederhana dalam berpenampilan dan rendah hati tutur katanya ini, sebenarnya memiliki reputasi hebat sebagai seniman batik dan produsen batik. Namanya mungkin asing di kalangan konsumen batik lokal, namun tidak bagi para pecinta batik tulis sutera halus yang berkualitas tinggi yang berasal dari negeri Sakura, Jepang. Dialah, Katura AR.

Kelahiran 15 Desember 1952 di Trusmi-Plered, Kabupaten Cirebon ini sangat peduli dengan perkembangan dan kelestarian seni budaya batik, khususnya batik asli Cirebon. Dia pun menganggap bisnis batiknya itu sebagai bisnis seni. Dia tidak mau semata-mata menerima pesanan sampai harus mengindahkan kaidah pembuatan batik dan mengacuhkan kualitas demi mengejar keuntungan. Untuk itu, Katura memposisikan batiknya sebagai produk seni yang menyasar kalangan terbatas, yakni kalangan pecinta seni batik yang memiliki pemahaman yang tinggi terhadap proses pembuatan dan cita rasa kain batik.

Tidak heran, jika proses pembuatan batik tulis sutera halus buatan Katuran bisa mencapai 2-6 bulan. Mengapa? “Karena butuh kedetilan luar biasa, mulai dari pemilihan bahan baku, seperti kain sutranya, kain katunnya, malam (lilin, red), pewarna alamnya, disain motif, proses batiknya, sampai selesai. Membuatnya tidak bisa diburu-buru!,” katanya tegas. Maka,  harga jual yang dipatoknya per lembar kain batik tulis sutra dan cap yang diproduksinya itu paling murah sekitar Rp 1 juta dan bisa lebih. Semuanya tergantung pada kedetilan pola serta tingkat kesulitan pembuatan dan pemilihan bahan baku. Workshopnya yang terletak di bagian belakang rumahnya pun terlihat sederhana.

Katura AR tidak menampik kadang datang permintaan untuk membuat kain batik dengan harga yang lebih terjangkau dan harus segera selesai dalam hitungan minggu. Namun, dia memilih menolak tawaran tersebut meskipun dia tahu pundi-pundinya bisa lebih tebal daripada biasanya. Mengapa? Karena dia berpegang teguh pada komitmen untuk menjaga keaslian kain batik sebagai produk seni budaya warisan leluhur daripada komoditas. “Batik itu, jangan hanya dipandang saat sudah menjadi selembar kain saja.  Tapi, juga harus melihat sebuah ikatan solid yang berhasil dibangun oleh pemilik modal dengan tenaga pembatiknya,” ujarnya. “Lalu, kitapun harus mau menghargai ketrampilan dan dedikasi para pembatik. Proses pengerjaannya pun punya nilai filosofi yang tinggi pada setiap coretan motifnya. Jadi, sesungguhnya, kain batik itu tidak bisa dibuat asal jadi,” tegasnya menambahkan.

Walhasil, bisa dikatakan volume produksi batik Katura itu sedikit dibandingkan pengusaha batik lainnya yang tersebar di Trusmi. Karya batiknya itu lebih banyak dicintai dan dilirik oleh para pecinta seni dan kolektor. Banyak pembeli asing, khususnya dari Jepang  yang tercatat sebagai pelanggan setianya. Sekitar 90% pembelinya berasal dari Jepang yang datang langsung  atau pesan batik  melalui agen resmi yang ditunjuk oleh pembeli Jepang itu. Sisanya, 10% merupakan para pecinta batik tulis dan cap sutera halus di Indonesia, Perancis, Belanda, Jerman, dan Belanda yang rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk selembar kain batik. Jumlah produk setiap motifnya pun terhitung terbatas. “Artinya, konsumen yang satu belum tentu mempunyai kain batik yang dimiliki konsumen lainnya,” jelas Katura.

Contoh batik karya Bapak Katura AR (oleh Tutut Handayani, Maret 2011)

Perkenalan Katura AR dengan pembeli dari luar negerinya terjadi pada tahun 1987. Saat itu, ada 2 dosen seni rupa asal Belanda dan Jerman yang bertandang ke Indonesia untuk mempelajari seni budaya batik Jawa. Saat mereka tiba di Trusmi-Cirebon,  mereka mendapatkan nama Katura dari beberapa orang yang pasti mau mengajarkan dan menjelaskan apa, siapa dan bagaimana seni batik  khas Cirebon. “Mereka dapat nama saya dari tetangga sekitar rumah saya ketika mereka bertanya kira-kira siapa yang mau membantu ngejelasin tentang batik. Jadilah saya didaulat sebagai narasumber dalam mempelajari apa dan siapa batik Trusmi itu. Padahal, bahasa Inggris saya saja masih terbatas. Tapi,  saya nekat karena saya terharu ada orang asing yang mau tahu banyak tentang budaya batik Trusmi, tanah kelahiran saya,” paparnya mengenang saat itu.

Kedua dosen asing itu tidak berhenti belajar pada tahun itu saja.  Mereka pun kembali ke Trusmi pada tahun 1989 bersama 20 mahasiswanya untuk belajar batik dengan Katura. “Mereka tinggal bersama kami selama 2 minggu. Sejak itu, saya sering menerima tamu asing yang ingin belajar kerajinan batik dan akhirnya juga menjadi pembeli dan pemesan produk saya,” kata Katura.

Pasar Jepang baru berhasil ditembus Katura pada tahun 1990. Hal ini akibat dari perkenalannya dengan Yumiko Katsu—seorang disainer tekstil asal Jepang yang kuliah di Fakultas Seni Rupa &  Desain di Institut Teknologi Bandung. Yumiko menjadikan putera dari pasangan Ranima dan Kasmin ini sebagai sumber referensinya. Kemudian pria Jepang ini mengenalkannya dengan  kawan-kawannya di Jepang. Inilah awal mula produk batiknya diterima oleh konsumen Jepang.

Katura AR senang berbisnis dengan orang Jepang. Dia belajar sebuah kedisiplinan, ketepatan waktu, kedetilan dan kehati-hatian agar mencapai kualitas produk yang prima, nyaris sempurna.  “Kata orang Jepang, membuat batik itu benar-benar sudah menerapakan Zero Tolerance, alias tidak boleh ada kesalahan di setiap proses produksi. Karena kalau ada kesalahan, harus mengulang dari nol kembali. Untuk itu, butuh ketelitian luar biasa,” katanya mengutip perkataan Yumiko dan beberapa pembeli dari Jepangnya.

Antisipasi peningkatan jumlah pesanan dari Jepang, anak ke 9 dari 10 bersaudara ini menerapkan daftar tunggu pesanan.  Setiap pesanan tercatat progresnya secara tertulis. Dia pun menjelaskan maksimal waktu penyelesaian produk sejak order datang. Sebuah pesanan bisa selesai dalam waktu 2 bulan atau lebih.  Katura yang memegang proses disain awal dan pemilihan bahan baku. Proses selanjutnya dia dibantu oleh 30 tenaga pengrajin yang dihimpunnya dari anak-anak putus sekolah di sekitar rumah atau luar desa Trusmi.  “Adanya pesanan dari Jepang ini, saya jadi belajar bagaimana menyiasati dan menyelaraskan antara tenggat waktu pesanan dengan proses pembuatan batik yang benar tanpa harus mengorbankan kualitas,” ujar Katura sambil menunjukkan daftar pesanan para pelanggan Jepang-nya yang meminta dibuatkan motif-motif yang kental nuansa pesisir pantai Utara Jawa yang (kadang) dipadankan dengan motif khas negeri Sakura, Jepang. “Saya senang kain batik karya saya itu diolah dijadikan baju yang dipasarkan kembali di butik-butik Jepang atau dipakai langsung oleh orang Jepang,” paparnya. Sekarang, angka penjualan batiknya yang sangat terbatas dari volume dan pangsa pasarnya ini rata-rata mencapai ratusan juta Rupiah per tahun. “Sedikit dibandingkan lainnya yang bisa mencapai ratusan juta per bulan,” tambahnya merendah.

Kerendahan hati Katura AR juga terlihat dari penolakannya disebut sebagai pengusaha batik. Dia yang belajar batik sejak usia 11 tahun ini lebih senang disebut sebagai seniman batik.  Kecintaannya pada seni kerajinan batik agar lestari di tangan generasi muda, khususnya anak muda Cirebon, lahirlah Sanggar Batik Katura. Siapapun bisa bertandang ke sanggar batik ini.  Katura yang hanya tamatan Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) atau setara Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Trusmi ini memiliki mimpi besar, yakni semakin banyak generasi muda di Indonesia yang mau belajar membatik. “Setidaknya bisa menghargai batik sebagai produk seni budaya Indonesia berkualitas tinggi,” katanya.  Dia pun turut terjun langsung sebagai pengajar.

Oleh karena itu,  Katura AR mendapat gelar kehormatan Honoris Causa—Master of Art dari University of Hawaii, Amerika Serikat — dan Upakarti dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 2009. Baginya, gelar kehormatan itu sebagai cambuk untuk bisa berkarya lebih baik lagi. “Saya tidak akan pernah berhenti belajar,” pungkas suami dari Kuriah (57 tahun) dan ayah dari 5 anak perempuan ini tegas. @@@

Catatan : hasil reportase liputan industri batik di Indonesia—Maret 2011

 
Leave a comment

Posted by on 2012/01/17 in Tentang Indonesia

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Ailtje Ni Diomasaigh

Ramblings of an Indonesian Woman

Cerita4Musim♡

{ Every once in a while, in an ordinary life, love gives us a fairytale.....}

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Tio

Just wanna share my experience

%d bloggers like this: