RSS

Do I Succeed Building My Own Brand?

17 Nov

Enam bulan sudah saya berhenti menjadi jurnalis yang punya ‘bendera’. Hmm…apa itu ‘bendera’?

‘Bendera’ yang saya maksud di sini, saya bergabung dalam sebuah perusahaan penerbitan majalah ekonomi ternama di Jakarta-Indonesia. Perusahaan ini sebagai tempat saya bernaung dan bekerja sebagai wartawan. Setiap saya pergi liputan, saya selalu menyebut nama majalah tersebut. Bisa dikatakan, setiap saya menyebut nama majalah ini, setidaknya saya banyak ‘mendapatkan’ kemudahan untuk mengakses data, membangun jaringan, dan mewawancarai narasumber. Maklum, nama majalah ini sudah terkenal di kalangan para pelaku bisnis dan ekonomi di Jakarta, khususnya. Kalau orang pemasaran bilang, merek (brand, red) nya sudah sangat kuat. Mau tahu nama majalahnya? Namanya SWA.

Saya tidak bisa memungkiri kenyataan kalau saya dikenal sebagai Tutut Handayani, wartawan SWA. Ada beberapa pihak yang ingin berkenalan bahkan akhirnya ‘akrab’ karena embel-embel nama SWA itu. Tanpa itu, siapalah saya? Tidak salah juga kok, karena menurut nasihat wartawan-wartawan senior yang banyak membantu saya dalam berkarir sebagai jurnalis, tidak ada hubungan yang abadi antara wartawan dan narasumbernya. Bermimpi muluk jika ingin tetap berhasil membangun hubungan persahabatan yang murni antara wartawan dan narasumbernya.

Benar juga pendapat tersebut. Mengapa? Karena hubungan terjalin karena adanya kepentingan. Saya sebagai wartawan punya kepentingan, yakni informasi/berita. Dan, narasumber yang menjadi sumber saya punya kepentingan ingin diberitakan. Mulai dari narasumber yang willingly ingin diberitakan alias tanpa diminta pun langsung menawarkan diri untuk diberitakan, atau narasumber yang susah-susah gampang–gampang-gampang susah untuk diberitakan.

Intinya, semua hubungan terjalin karena adanya kepentingan. Tidak heran, jika dalam pertemanan antara wartawan dan narasumber, bisa terjadi adanya ‘kecurigaan’ dari pihak narasumber karena ‘takut’ semua kalimat yang keluar dari mulutnya itu menjadi sumber informasi bagi wartawan. Ya, memang demikian. Jadi, kadang agak ‘canggung’ kalau berkawan di luar hubungan pekerjaan.

Nah, jika saya masih berkawan dengan seseorang/beberapa orang yang bertemu akibat pekerjaan, baik sesudah liputan tentang dirinya atau bisnisnya, bahkan setelah saya tidak berbendera ‘SWA’ lagi, mungkin karena kami berhasil membangun rasa saling percaya saat berkawan tersebut. Kami bisa menempatkan diri saat bercakap-cakap selaiknya kawan biasa. Saat itu, saya adalah Tutut Handayani yang bukan wartawan, alias temannya sekalipun dalam percakapan kami, saya suka mendapatkan informasi yang sebenarnya bernilai berita, namun saya keep just for myself.

Saat bersama mereka, saya hanya melihat mereka sebagai individu tanpa embel-embel jabatan atau profesi mereka. Jika saya tertarik dengan sebuah obrolan yang tampaknya bisa menjadi sebuah berita menarik, keesokan harinya saya memakai ‘baju wartawan’ dan meminta ijin kepada ‘teman obrol’ saya itu untuk mengulasnya lebih jauh. Kalau ‘teman obrol’ saya itu bersedia menjadi narasumbernya dan namanya rela disebut, ya..saat itu saya dan dia sedang bekerja sebagai wartawan dan narasumbernya. Tetapi, kalau dia meminta namanya jangan disebut, ya saya jadikan dia sebagai sumber informasi yang layak dipercaya dan semua informasinya sebagai information background. Tidak mudah membangun dan menjaga rasa saling percaya itu. Dalam perjalanannya, saya juga akhirnya belajar tentang sebuah ‘ketulusan’.

Saya menjadi wartawan dengan cara otodidak. Saya bersyukur sekali karena saya mendapatkan banyak pelajaran yang berharga dari para senior dengan karakter yang berbeda-beda. Saya tidak pernah merasa takut dengan siapapun sekalipun dia sudah sangat senior di perusahaan. Buat apa takut? Saya hanya hormat tanpa harus menghormatinya dengan cara berlebihan sampai terkesan menjilat. Kalaupun ada yang terkesan ‘gila hormat’, itu saya kembalikan pada karakternya sebagai individu. Saya pun tetap bersikap biasa saja, yakni tidak memenuhi rasa haus gila hormatnya itu. Saya hanya fokus pada sisi positifnya seseorang yang bisa membawa kebaikan buat saya.

Kalau saat saya masih baru jadi wartawan, ada senior yang menugaskan saya menranskrip hasil wawancara, saya tetap melakukannya biarpun cenderung membosankan dan bikin kuping sakit. Aktivitas ini mengajarkan saya sebuah kehati-hatian, kedetilan, dan keakurasian, plus kesabaran meskipun hanya sedikit kalimat yang sudah saya transkrip berjam-jam itu digunakan sebagai kutipan dalam artikel si senior. Jadi, saya suka amazing kalau ada wartawan baru yang belum apa-apa sudah protes kalau hasil transkripnya hanya dipakai sedikit bahkan bisa tidak sama sekali dalam sebuah artikel. Mengapa? Karena tugas menranskrip itu juga menjadi sarana introspeksi buat saya apakah saya sudah baik dan benar dalam mewawancarai narasumber yang terlihat dari cara saya bertanya yang berefek pada jawaban si narasumber.

Saya pernah berada di saat hasil wawancara saya seperti ‘sampah’ karena tidak ada isinya sesuai dengan tujuan tulisan. Saya pun harus mengulangnya kembali dari awal. Malu? Tentu, karena saya harus bikin janji kembali dengan narasumber. Nah, di sinilah saya harus cerdas supaya tidak kehilangan muka di depan narasumber itu. Jurus ampuh yang saya lakukan adalah mengatakan kalau ada informasi yang harus diulas lebih dalam dan detil agar tidak salah kutip. White lies? Bisa dikatakan demikian. Saat saya mengulang wawancara tersebut, saya berusaha membangun suasana agar narasumber tidak merasa kalau sedang diwawancarai ulang. Sejauh ini, berhasil.

Lalu, kalau ada senior yang mengajak saya ikut mewawancarai seseorang yang sebenarnya itu tugasnya sang senior, atau diajak saat sang senior mendapatkan undangan untuk sekedar networking, saya sih senang-senang saja. Mengapa? Karena saya bisa belajar sesuatu hal, yaitu melihat cara senior mewawancari narasumber. Oh…begitu toh caranya bertanya dan menggali informasi atau membangun networking. Ya…biarpun kadang akhirnya saya ‘ketiban pulung’ untuk mentranskripnya. But, it’s okey! Karena toh, tidak semua senior begitu. Karena saat itu pun, saya suka membantu mencatatkan beberapa informasi dalam block note yang pasti berguna untuk senior yang asyik menyimak dan bercakap-cakap dengan narasumber. Terutama, pencatatan angka-angka. Dan, saat itu, saya tidak merasa sebagai juru catat.

Singkat cerita, saya bersyukur berada dalam era dimana para senior masih banyak yang mau rela berbagi pengalaman dengan para juniornya. Tidak seperti sekarang yang semuanya seperti kehabisan waktu semata-mata atas nama deadline. Dan, banyak sikap ‘junior’ (tidak semua) seperti yang saya amati, berkarakter saya sudah tahu bahkan lebih tahu dari siapapun. Dan, cenderung menyikapi banyak hal dari kacamata negatif. Ditekan sedikit dengan tugas-tugas, langsung merasa ‘marah’. Ditegur sama senior dalam konteks pekerjaan, langsung dijadikan urusan pribadi. Dalam bekerja, mentang- mentang wartawan, sering tidak disiplin waktu atau berpakaian seadanya.

Narasumber nolak diwawancarai, langsung patah semangat. Tahu ga sih? Kadang, penolakan narasumber itu berawal dari kesan pertama, yakni pembawaan sang wartawan dalam bertutur kata secara lisan melalui telepon atau tatap muka dan tertulis dalam surat permohonan wawancara. Lalu, sikap wartawan dalam menghargai orang-orang di sekitar narasumber yang bisa jadi CEO perusahaan terkemuka, seperti sekretaris bahkan satpam sekalipun. Bisa saja saya menelepon langsung ke nomor ponsel sang CEO dan bikin janji wawancara. Setelah itu, tidak ada salahnya saya berinsiatif menyaampaikan hasil pembicaraan tersebut kepada sekretarisnya untuk mencatatkan dalam jadwal bosnya itu. Plus, kalau ada humasnya, ya dikonfirmasikan juga ke humasnya. Maklum bos besar, yang dipikirkan dan dilakukan banyak sekali. Jadi, jangan buru-buru marah sama sekretaris, kalau sudah datang ke kantor CEO itu terus dibilang tidak ada jadwal wawancara dengan kita karena kita lupa mengkonfirmasikan kembali kepada si sekretaris. Apalagi sampai bersuara nyaring dan berkata “Elo tahu siapa saya? Saya ini wartawan tauk…bla..bla…”. Pasti deh, dalam hati sang sekretaris atau satpam bicara begini: “Emangnya siapeee elooo?? Helowwww….”.

Percaya deh…semua sikap itu ditujukan untuk berhasil membangun Our Brand, bukan hanya saat bekerja sebagai jurnalis tetapi dalam kehidupan. Karena saat tidak bekerja lagi sebagai wartawan yang bernaung tetap dalam sebuah perusahaan penerbitan resmi, awalnya mengalami post power syndrom. Karena saya awalnya hanya dikenal sebagai Tutut Handayani dari SWA. Tetapi, saat saya masih di SWA pun, saya percaya saya sudah dikenal sebagai Tutut Handayani sebagai individu dan sekarang pun saya terus berjuang membangun dan menjaga Brand saya ini tanpa embel-embel apapun di belakang nama saya.

I am just Tutut Handayani🙂

dedicated for all my colleagues at Property Indonesia and SWA Magazines, plus Suara Mahasiswa (SUMA) University of Indonesia….tack sa mycket (in Swedish how to say Thank You very Much)🙂

 
Leave a comment

Posted by on 2011/11/17 in My Personal Life

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Ailtje Ni Diomasaigh

Ramblings of an Indonesian Woman

Cerita4Musim♡

{ Every once in a while, in an ordinary life, love gives us a fairytale.....}

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Tio

Just wanna share my experience

%d bloggers like this: