RSS

Indonesian Migrant Worker

02 Nov

Saya sangat menyukai film berjudul Minggu Pagi di Victoria Park. Film berkelas karya Lola Amaria dan kawan-kawan. Sedikit sekali film Indonesia yang berkelas semacam ini yang berusaha menggambarkan dengan jujur wajah problema masyarakat Indonesia.

Film ini bercerita suka duka para Indonesian Migrant Worker yang bekerja di sektor informal di Hong Kong. Tokoh-tokohnya para wanita yang berusaha untuk bisa tetap bertahan hidup demi memberikan kehidupan layak kepada keluarganya di Indonesia. Namun, namanya wanita yang ingin tetap merasakan dicintai, mereka ‘rela memberikan segalanya atas nama cinta’ kepada pria yang jelas-jelas hanya ingin uang mereka, seperti yang dialami oleh tokoh Sari dan Yati. Sari digambarkan sebagai wanita yang masih mempunyai akal sehat dengan berani menolak keinginan kekasih saat sang kekasih memarahinya karena Sari lebih mementingkan mengirim uang kepada ayah Sari di desa. Sementara Yati terbelit oleh hutang pada lembaga pengkreditan yang sebenarnya lintah darat legal untuk menghidupi pacar lesbiannya dan akhirnya bunuh diri.

Namun, tokoh utama film ini kisah Mayang yang diminta ayahnya untuk mencari adiknya yang bernama Sekar di Hongkong yang sudah lama ‘menghilang tak ada kabar’. Sekar sudah terlebih dahulu menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Hong Kong daripada Mayang. Awalnya Mayang merasa terpaksa mencari adik yang sebenarnya disayanginya itu namun juga dibencinya karena sejak kecil ayahnya selalu membanding-bandingkan mereka. Mayang hidup dalam bayangan Sekar karena Sekar dipandang lebih cantik, pintar, dan berhasil karena mampu membiayai orangtua dengan memberikan rumah yang bagus dan ternak, hasil dari jerih payah Sekar di Hong Kong. Orang tua kedua gadis ini–terutama sang ayah–tidak menyadari bahwa Sekar demi memenuhi segala permintaan ayah tercinta, dia bekerja apapun demi mendapatkan uang sampai akhirnya dia rela meminjam uang kepada lembaga pengkreditan yang bernama Super Credit yang menahan paspor nasabah sebagai salah satu syarat pinjaman. Bunga yang diberikan lembaga ini sangat besar dan Sekar pun akhirnya tak mampu melunasinya. Saatnya Sekar harus pulang karena kontrak kerja resminya habis, tetapi dia tidak bisa pulang karena paspornya tertahan di lembaga pengkreditan itu dan ada kewajiban untuk melunasinya. Di sinilah awal mula perjuangan Sekar sebagai tenaga kerja ilegal.Mayang pun yang pergi menyusul adiknya akhirnya berhasil menemukan adiknya setelah dibantu oleh para TKW lainnya.

Film ini juga menggambarkan kekerabatan dan persahabatan yang terjalin karena merasa senasib dan sepenanggungan merantau di Negeri orang. Ada tokoh pria bernama Gandhi yang sangat peduli pada nasib para TKW ini. Dia memberikan banyak pelatihan bagaimana sistem peraturan dan perundangan bekerja di Hong Kong. Pelatihan yang digagasnya secara pribadi dan idealismenya yang sebenarnya juga menjadi bagian dari pekerjaannya sebagai profesional yang bekerja di perwakilan Indonesia di Hong Kong. gandhi adalah ‘kakak dan sahabat bersama’ bagi para TKW tersebut. Dia pun sangat peduli dengan persoalan yang membelit para migrant workers ini dan berusaha memberikan bantuannya. Dia pun mengkonsolidasi para TKW ini untuk jangan lelah dalam membantu kesulitan kawan.

Tokoh Gandhi yang diperankan oleh Donny Damara dalam film ini menggambarkan sedikit sekali wajah anak muda Indonesia yang bekerja di kantor perwakilan Indonesia di luar negeri yang peduli dengan masyarakat Indonesia. Dia menunjukkan kepeduliannya dengan riil karena terjun langsung ke lapangan. Seandainya banyak tokoh semacam Gandhi ini.

Adapula tokoh Vincent yang merupakan pedagang yang berhasil di Hong Kong. Vincent orang Indonesia yang awalnya tidak terlalu peduli karena dia merasa semua kesuksesannya itu akibat perjuangannya sendiri. Namun, akhirnya dia menyadari bahwa sesama perantau di Negeri Orang, dia berprinsip: Kalau Bukan Sesama Indonesia, Lalu Siapa Lagi Yang Bisa Membantu.

Singkat cerita, Mayang dan Sekar pun berhasil bertemu. Ikatan darah lebih kental daripada air. Sekar pun kembali ke Indonesia.

Istilah Pahlawan Devisa itu sebenarnya hanya istilah yang dibuat oleh orang-orang yang sesungguhnya tidak tahu (bahkan tidak mau tahu) perjuangan para TKW itu sebenarnya seperti apa di lapangan. Hidup para wanita ini sejak awal memutuskan untuk menjadi TKW di luar negeri itu sama saja menyerahka dirinya pada ‘kematian’ dan kesengsaraan. Mereka ‘berjudi’ dengan nasib. Jika bernasib baik, kehidupan, keselamatan, dan kesejahteraan dirinya lah yang mereka nikmati. Jika nasib buruk, kadang mereka pulang hanya tinggal nama atau penuh dengan luka akibat siksaan.

Saya jadi ingat percakapan saya dengan mba Sayuki seorang TKW di Jordania saat terbang 2 tahun lalu. Semua nasib baik atau nasib buruk itu dimulai sejak mereka memilih perusahaan penyalur tenaga kerja (PJTK). Jika PJTK itu resmi dan legal tercatat di Departemen Tenaga Kerja RI, maka nasib baik lah yang umumnya menghampiri para TKW itu karena mereka diberikan pelatihan intesif sebelum diberangkatkan ke luar negeri. Tapi, jika PJTK nya ilegal, cenderung nasib buruk yang akan menghampiri mereka. Ironisnya, para pekerja informal di luar negeri kebanyakan ‘menyerahkan nasibnya’ kepada PJTK ilegal. Tak heran, banyak yang nasibnya terlunta-lunta di sana.

Hong Kong merupakan negara tujuan favorit para TKW ini sekalipun mereka tidak menerima gaji selama 7 bulan. Upah mereka selama 7 bulan itu merupakan haknya perusahaan penyalur.  Artinya, selama 7 bulan itu, hidup mereka sangat tergantung pada ‘kebaikan hati’ majikan yang mau memberikan tips. Atau kebaikan hati sesama teman perantauan. Di sinilah mereka harus pandai-pandai pilih sahabat. Bahkan, pandai-pandai menahan keinginan untuk membeli barang-barang yang disukai wanita, seperti tas, sepatu, dan perhiasan. Dan, pandai-pandai memberikan pengertian kepada keluarga di kampung halaman agar tidak sering memaksa mereka mengirimkan uang. Bagi yang tidak mampu mengatasi semua itu, inilah yang dimanfaatkan oleh lembaga-lembaga pengkreditan yang tumbuh subur baik yang legal maupun ilegal. Setelah 7 bulan, mereka bisa mendapatkan upahnya secara penuh.

Kawasan Arab tidak terlalu menjadi favorit karena selamanya mereka harus berbagi ‘penghasilan’ dengan PJTK. Bedanya dengan Hong Kong, sejak awal mereka sudah bisa mendapatkan 30-40% dari total gaji per bulan selama 7-8 bulan. Selebihnya milik PJTK. Setelah melewati masa 7-8 bulan itu, perbandingannya sekitar 60-70% untuk TKW dan sisanya untuk PJTK. Perbedaan lainnya dengan Hong Kong, para TKW yang ditempatkan ke Arab ini benar-benar tidak tahu akan ditempatkan dimana,bekerja sebagai apa, dan tuan/nyonyanya sepeti apa. Mereka bisa tahu setelah sampai di negara tujuan. Dan, mereka bukan sebagai penentu. Penentunya adalah para PJTK tersebut.

Mba Sayuki berkata pada saya; “Saya sangat bersyukur sekali, saya punya nasib baik. Biarpun saya sekarang menjadi pengasuh nenek-nenek di Jordania. Keluarga nenek ini pun baik sekali. Saya sudah 4 tahun bekerja di mereka. 3 tahun kontrak habis, saya diminta kembali untuk terus bekerja di rumahnya. Kalo saya boleh memilih, cukup saya yang bekerja jadi TKW. Adik-adik saya tidak usah. Saya sedih mengingat kawan-kawan yang kurang beruntung”.

Ya. Saya pun juga sedih melihat para calon TKW ini sejak di bandara. Mau berangkat sudah ‘dipersulit’. Pulang pun ‘diperas’. Ironisnya, yang memeras orang kita sendiri yang berseragam di bandara. Saat di bandara Doha-Qatar, saya sering melihat mereka celingukan karena tidak mengerti mereka harus melakukan apa dan kendala bahasa. Sekalipun mereka pergi berombongan. Ada pimpinan rombongan yang merupakan utusan PJTK yang bertugas mengantarkan mereka ke negara tujuan. Tapi, umumnya yang saya perhatikan tugas pimpinan rombongan ini, hmmm….tidak lebih dari pimpinan yang acuh pada anak buahnya. Para TKW ini harus bisa mandiri. Dan, saya pun tanpa bermaksud menjadi Pahlawan Kesiangan suka ‘gatal’ kalo melihat orang yang kebingungan apalagi sesama Indonesia di Negeri Orang. Saya suka saja menghampiri mereka yang celingak-celinguk tidak mengerti dan membantu menjelaskan sekalipun dipandang ‘sinis’ oleh pimpinan rombongan. Saya hanya membayangkan diri sendiri, seandainya saya jauh di negeri orang dan saya tidak mengerti sekalipun bahasa negara tersebut. Doa saya hanyalah berharap bertemu orang yang mau membantu saya dengan ikhlas. Itu saja!

Dan, saya pun senang saja tetap bergabung dengan mereka saat menunggu boarding sekalipun tujuan berbeda. Itupun, sering juga saya dipandang ‘curiga’ oleh mba-mba ini karena kenapa saya baik sekali sama mereka. Namun, saat saya katakan tidak usah curiga, mereka lega karena mereka merasa ‘aneh’ ada orang Indonesia yang terlihat terpelajar dan berpendidikan tinggi (katanya) serta berbaju bagus itu mau menyapa dan membantu mereka. Dan, mba Sayuki pun berkata yang sama saat saya duduk di sampingnya selama 8 jam terbang dari Dohan ke sebuah negara di Eropa demi menuntut ilmu. Dia surprise sekali ada yang mau menyapa dan mengajak berbicara sampai tukar-menukar cemilan. Saya cuma bisa bilang ke mba Sayuki;”Mba, bisa jadi mereka tidak menyapa mba atau yang lainnya karena mereka ingin tidur karena lelah habis berbisnis di negeri orang. Ada loh orang yang menjadikan saat terbang itu sebagai saatnya istirahat atau tidur karena kalo di darat mereka harus melek terus. Atau, siapa tahu, mereka lagi sakit gigi?”.

Hmmm…sedih banget ga sih karena ada anggapan semacam itu? Saya sih cuma berpikir sederhana saja, memang apa bedanya saya dengan mereka? Apa bedanya mereka dengan saya? Sedih juga sih atas kenyataan itu. Saya perhatikan sejak awal di bandara Indonesia, saya melihat ada beberapa wanita yang berbaju cantik dan wangi yang terlihat sekali tidak mau ‘bersentuhan’ secara tidak sengaja saat sama-sama nunggu boarding. Bahkan, saya mendengar mereka mengolok-ngolok sambil berbisik-bisik dengan mengatakan kalau mba-mba calon TKW itu pasti norak karena pertama kali naik pesawat. Helowwww….

Mungkin yang saya tidak pernah tahu, para TKW ini tersebar di lebih 30 negara. Mereka mengkontribusikan uang sebesar US$ 6,7 miliar terhadap total pendapatan Negara Indonesia. Sekitar 8,9 juta pekerja yang bekerja dimana 66% bekerja di sektor informal, umumnya pembantu rumah tangga. Sebanyak 97% dari 8,9 juta itu wanita yang rata-rata memiliki 2 anak di kampung halamannya. Jadi ada 8,5 juta anak Indonesia yang tidak diasuh oleh ibunya. Dan, lebih dari 4,2 juta keluarga di Indonesia yang sangat tergantung secara keuangan pada anak atau isterinya yang bekerja di luar negeri (data 2009).

For Me : hargailah setiap tetesan keringat yang saya atau keluarga hasilkan. Dan, jangan berharap lebih kepada siapapun. Apalagi mengharapkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan non primer seperti barang mewah dari keluarga yang merantau di Negeri Orang. Kadang…sesungguhnya…yang terlihat tidak seperti yang kelihatannya. Berbekal semangat mind-set positif, niat baik, atitude baik,  plus kerja keras lah membuat saya yakin survive (insya allah) dimanapun di Bumi Allah ini.

Happy Day Forever🙂

 
Leave a comment

Posted by on 2011/11/02 in Tentang Indonesia

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Ailtje Ni Diomasaigh

Ramblings of an Indonesian Woman

Cerita4Musim♡

{ Every once in a while, in an ordinary life, love gives us a fairytale.....}

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Tio

Just wanna share my experience

%d bloggers like this: