likalikulangkahkakiku











      Source : Istimewa by Inilah.com

1 Mei 2012 menjadi tanggal dan hari penting buat saya. Mengapa? Saya bertemu (kembali) dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) Komisi 8. Kenapa saya sebut ’bertemu (kembali)’? Karena teringat masa-masa dimana saya ’berburu’ anggota dewan saat masih bekerja sebagai wartawan di Jakarta sebelum pindah dan menetap di Stockholm, Swedia.

Saya pun ’semangat’ ketika mendapatkan undangan untuk menghadiri pertemuan masyarakat Republik Indonesia (RI) dengan anggota dewan tersebut. Acara tersebut merupakan insiatif DM Juniarta Sastrawan, duta besar RI untuk kerajaan Swedia. Saya pun berharap akan ada dialog antara para wakil rakyat dengan rakyatnya. Saya bergegas menyiapkan diri untuk berangkat lebih awal menuju Wisma Duta RI—kediaman duta besar (dubes) yang juga berperan sebagai tempat kumpul masyarakat Indonesia di Swedia—yang terletak di kawasan Lidingo, sekitar 30 menit dari pusat kota Stockholm (T-Central) dengan menggunakan kereta bawah tanah (tunnelbanna).

Saya berusaha menghormati undangan resmi yang terdapat simbol burung Garuda Pancasila dan mencantumkan nama lengkap dengan datang tepat waktu. Bila perlu sebelum acara dimulai. Namun, bukan karena undangan itu saja, saya datang tepat waktu. Saya tipe pribadi yang on time. Akhirnya, saya pun tiba di Wisma Duta pada jam 18.45, 45 menit sebelum acara dimulai, yaitu pukul 19.30 waktu Stockholm seperti yang tertera pada undangan.

Saat penantian, saya pun ’bercengkrama informal’ dengan Dubes beserta staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). DM Juniarta Sastrawan, dubes RI, bercerita dia baru saja tiba dari Jakarta siang hari pada hari yang sama dengan pertemuan masyarakat Indonesia dengan anggota DPR Komisi 8.  Demi menjamu ’tamu kehormatan’ yakni anggota DPR, dia pun segera balik ke Swedia. Pasti sangat melelahkan ucap saya dalam hati.  Terlebih kepergiannya ke Jakarta terkait dengan berbagai acara resmi yang wajib dihadirinya. Contohnya, kehadiran mantan Menteri Pertahanan Swedia di Jakarta. Dia berujar ’berhasil mendatangkan’ tokoh politik sebuah negara dimana dia bertugas sebagai perwakilan RI di negara tersebut ke Indonesia,  menjadi salah satu tolak ukur penilaian kinerjanya sebagai diplomat. ’’Nilai saya sebagai diplomat lebih tinggi kalau berhasil membuat orang-orang penting dimana saya dinas datang ke Indonesia, daripada sebaliknya. Itu salah satu key perfomance saya,’’ ujarnya.  Hmm…suatu wawasan baru buat saya 

Namun, sungguh disayangkan sekali. Tamu anggota dewan ini datang sangat terlambat dari waktu yang ditentukan. Rombongan anggota dewan yang dipimpin oleh Gondo Radityo Gambiro (wakil ketua Komisi 8 DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat) tiba di Wisma Duta RI pada pukul 20.15. Kebayang dong! Hampir 45 menit terlambatnya!! Saat menyaksikan rombongan tersebut mengisi buku tamu yang disediakan oleh staf KBRI, mulut saya yang gatal ditambah naluri kewartawanan bertanya pada staf sekretariat (sekjen) DPR RI yang turut serta.  ’’Kok, terlambat sih, Pak? Emang nginap dimana?’’, tanya saya. Jawaban sang sekjen, macet! Helowww…macet?? Duh….enggak cerdas banget deh jawabannya.

Bisa dikatakan macet sangat jarang terjadi di Stockholm-Swedia. Kalaupun ada itu hanya padat merayap, bukan macet berhenti total atau mobil berhenti berjam-jam seperti di Jakarta. Padat merayapnya itu hanya pada hari dan jam tertentu, seperti hari Kamis atau Jumat pada jam pulang kantor. Biasanya terjadi di wilayah yang terdapat area komersial berupa perkantoran dan pusat perbelanjaan (centrum).

Ah…biarin aja mereka ’ngeles’ karena dipikirnya saya tidak tahu situasi dan kondisi Stockholm. Saya pun menjawab alasan sekjen itu, ’’Saya pindah ke Stockholm karena menghindari macet, Pak!’’. Telat…telat aja deh…ga usah ngeles! Sebel juga karena melihat ’segitunya’ Dubes kelimpungan mengatur agenda perjalanan sampai pemilihan jadwal pesawat agar bisa menyambut rombongan DPR RI ini.

Keterlambatan itu semakin membuat saya sebal dengan anggota DPR. Mereka berjuang keras meyanggah berbagai tuduhan perilaku negatif yang dipaparkan media kepada publik Indonesia. Mereka menyalahkan media massa karena tidak obyektif dalam memberitakan ulah mereka. Bagi saya, perilaku korupsi itu tidak semata-mata pengelapan atau penggelembungan uang demi kepentingan pribadi. Tetapi, tidak menghargai waktu dengan datang terlambat sesuai komitmen, bisa juga disebut perilaku korupsi.

Sejak kecil saya dididik orang tua untuk tidak menjadikan kemacetan sebagai alasan (excuse). Artinya, supaya saya datang tepat waktu, saya harus mampu mengelola waktu lebih baik dengan berangkat lebih awal. Bila perlu 1 atau 2 jam berangkat lebih awal jika mengingat kemacetan di Jakarta yang bikin gerah dan emosi jiwa. Artinya, supaya saya bisa berangkat lebih awal, ya bangun lebih pagi, bila perlu sebelum ayam jago berkokok! Supaya bisa bangun lebih awal, ya tidur malam lebih awal! Begitu seterusnya! No excuse!

Jadi, menjadikan macet sebagai alasan, bukanlah jawaban yang sangat cerdas. Apalagi di Stockholm-Swedia yang sangat terkenal dengan ketepatan waktu jadwal angkutan umumnya.  Telat semenit saja, saya pengguna jasa angkutan massal di sini harus rela menunggu kedatangan bis/kereta berikutnya yang bisa mencapai 5 atau 10 menit. Saat musim panas, tidak jadi soal. Kebayang kalau saat musim dingin. Udara dingin menusuk tulang membuat siapapun enggan berlama-lama menunggu di halte bis.

Saya pun diam mengamati satu per satu anggota rombongan yang berjumlah 18 orang memasuki ruangan. Ada 6 orang wanita dalam rombongan tersebut. Setelah semuanya lengkap memasuki ruang utama pertemuan, dubes pun segera membuka acara dan meminta masing-masing anggota rombongan memperkenalkan diri.  Setelah itu, kami—masyarakat Indonesia—melakukan hal yang sama.

Saat perkenalan itu, saya memberikan penjelasan singkat tanpa menyebut profesi saya yang mantan wartawan. Strategi khusus yang sengaja dilakukan agar rombongan DPR ini  tetap bersikap ’natural’. Mereka pasti alergi jika mendengar kata wartawan. Ya..iyalah…mereka sedang menjadi sorotan tajam media massa Indonesia dua tahun terakhir. Khususnya perilaku para elit politik dalam pemborosan dan penggelembungan uang negara. Mereka pun sepertinya tidak merasa bersalah atas perilaku tersebut di tengah kesulitan perekonomian rakyatnya. Mereka sangat senang berdalih. Ya..politikus itu memang paling bisa bermain kata.

Strategi khusus saya itu ada benarnya. Walhasil, menit-menit awal sambutan yang disampaikan wakil ketua komisi 8 yang berperan sebagai ketua rombongan kunjungan kerja ke Norwegia dan Swedia ini mengeluarkan curahan hatinya yang tidak menyukai bombardirnya kritikan pedas media massa Indonesia terhadap anggota dewan. Dia berkata, ’’Pers Indonesia terlalu bebas yang kebablasan. Tidak obyektif dan tidak bisa melihat sisi positif anggota dewan lagi’’.

Hmm..kuping saya cukup panas mendengar curahan hati sang wakil rakyat ini. Enak saja menyalahkan media massa Indonesia. Tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Media massa itu punya kewajiban sosial untuk memaparkan segala ketidakbenaran, khususnya kalangan public figure. Anggota dewan atau politisi itu termasuk public figure.

Seusai perkenalan itu, acara dilanjutkan makan malam bersama. Saya pun memilih menyingkir dan duduk-duduk di ruang tamu Wisma Duta, tidak menikmati perjamuan makan malam. Alasan lain, saya  ’berjaga-jaga’  agar tidak ada anggota dewan pulang di luar sepengamatan mata.

Nah, benarkan! Ihhhh….gemes banget ga sih…ternyata anggota dewan ini bermaksud ingin pulang. Hahaha….oh..oh…anggota dewankuww…mereka tipe individu yang Kami Datang, Kami Basa-Basi, Kami Makan, Kami Pulang! Weitss…nanti dulu…! Janji ada sesi tanya jawab harus dipenuhi.

Ajang tanya jawab dengan Komisi 8 DPR RI terjadi. Sesi ini dimulai dengan pernyataan Ketua PPI Swedia tentang sikap PPI Swedia beserta PPI Dunia tentang kehadiran Komisi 8 DPR RI di Stockholm.

Setelah itu, saya mengajukan berbagai pernyataan dan pertanyaan kepada wakil ketua Komisi 8 DPR RI yang tampaknya menjadi juru bicara rombongan. Semua pertanyaan dan pernyataan itu berdasarkan info yang saya dapat dari Jakarta.  (Lihat video, red).

Saya amati, rombongan DPR RI Komisi 8, khususnya wakil ketuanya ini sudah lebih siap menghadapi mahasiswa Indonesia jika terjadi penolakan seperti yang dilakukan oleh PPI Berlin beberapa minggu lalu. Mungkin juga berkaca dari kasus ’alamat email kosong’ yang ditanyakan mahasiswa Indonesia di Australia beberapa tahun lalu.  Tampaknya, dia sudah punya segudang jawaban dan dalih. Padahal, menurut sumber saya yang layak dipercaya di Stockholm dan Jakarta, rombongan komisi 8 DPR RI ini –saat mengetahui ada agenda pertemuan dengan masyarakat RI di Stockholm yang harus dilaksanakan atas permintaan Dubes RI untuk Swedia demi semangat Good Corporate Governance (GCG)—transparansi dan akuntabilitas–, rombongan ini bisa dikatakan ’menolak’ pada awalnya. Mereka ’sungkan’ bertemu dengan masyarakat Indonesia. Hmmm…masih punya rasa malu juga ternyata…. Tapi, apa masih ada rasa malu itu? Kalau memang benar, sebagai wakil rakyat yang terhormat, kenapa harus malu? Berani dong menghadapi rakyat-rakyatnya!!

Saya pribadi menganggap kunjungan kerja (kunker) ke 3 negara Skandinavia (Norwegia, Swedia dan Denmark) dalam rangka studi banding demi penyusunan Rancangan Undang-Undang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG) ini sangat tidak efektif. Mengapa? Karena hanya terjadi dalam 6 hari kerja saja. Mulai tanggal 28 April sampai 04 Mei 2012. Terlebih ketiga negara tersebut berjauhan secara geografis dan memakan waktu tempuh yang tidak sebentar.

Okelah…ada pesawat udara yang mempercepat waktu tempuh, tetapi mengingat kebiasaan ’molor waktu’, apa bisa terjadi percakapan yang komprehensif antara perwakilan lembaga-lembaga di ke-3 negara tersebut yang dikunjungi dengan anggota DPR RI Komisi 8? Saya berani mengatakan, yang terjadi adalah percakapan formalitas alias basa-basi! Anggota dewan tidak akan mendapatkan masukan berupa saran, kritik dan data-data yang lengkap dan komprehensif demi memantapkan terlaksananya RUU KKG tersebut.

Kalaupun tetap memandang perlunya studi banding ke luar negeri dimana mereka ingin disamakan seperti banyaknya mahasiswa yang belajar di luar negeri (lihat video, red), ya…jelas-jelas berbeda. JELAS-JELAS SANGAT TIDAK EFEKTIF.  Mereka mau mendapatkan ’masukan’ seperti apa jika kunjungan kerja hanya berlangsung 1,5 hari di Stockholm? Mereka bertemu dengan parlemen Swedia yang membahas keseteraan dan keadilan gender serta kementrian Swedia yang membahas kesetaraan dan keadilan gender dan semacam lembaga ombusman.

Alih-alih menghabiskan biaya perjalanan yang kabarnya hampir Rp 2 miliar ini, saya pikir lebih baik para anggota dewan ini mengisi masa resesnya dengan berkunjung ke daerah pilihan dan bercakap-cakap dengan pemilih atau rakyat di daerah pilihannya disertai berbagai tindakan nyata yang terkait dengan konteks pencapaian keadilan dan kesetaraan gender.

Atau meninjau kembali segala perundangan UU yang erat hubungannya dengan keadilan dan kesetaraan gender bersama komisi DPR terkait atau kementrian pemberdayaan wanita berikut lembaga swadaya masyarakat yang terkait, seperti Komnas Wanita. Contohnya, peninjauan kembali UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dimana masih ada beberapa pasal yang menjadi celah untuk pelaku tindakan kekerasan itu bebas demi hukum alias sulit ditindak secara pidana. Bahkan, pelaku yang berasal dari ekonomi mampu bisa bebas karena memilih hukuman denda daripada hukuman penjara (pasal 44 dan 49 UU No.23 Tahun 2004).

Atau, dalam konteks pencapaian keadilan dan kesetaraan gender, dilakukanlah banyak proses edukasi masyarakat, khususnya wanita agar lebih berani ’bersuara’ jika diperlakukan semena-mena, baik verbal maupun fisik. Edukasi tersebut bisa berupa pemahaman bahwa apapun bentuk kekerasan itu yang berakibat ketidaknyamanan bahkan luka fisik dan hati, pelakunya bisa dituntut pidana sekalipun suami atau ayah. Dan, aparat hukum pun juga diberikan edukasi demi menyamakan persepsi tentang bentuk kekerasan dalam rumah tangga agar bisa terjadi proses hukum yang adil.

Jika anggota komisi 8 menganggap UU No.23 tahun 2004 itu bukan wewenangnya berikut proses edukasi masyarakatnya, saya berpendapat justru komisi 8 punya peran penting dengan kekuatan politiknya yang mencakup area kerja pencapaian kesejahteraan sosial, agama dan bencana alam.

Daripada melahirkan atau membahas RUU baru dalam konteks Keadilan dan Kesetaraan Gender, pemikiran yang saya uraikan sebelumnya itu erat sekali kaitannya demi pencapaian kesejahteraan sosial masyarakat Indonesia seperti yang ingin diraih cita-cita Pancasila yang tertuang dalam sila ke 5, yakni Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Pencapaian tersebut bisa dimulai pembangunan  jiwa manusia Indonesia yang sehat. Yakni, ada rasa saling hormat-menghormati dan menghargai individu yang berjenis kelamin pria dan wanita tanpa harus ada penekanan ’superioritas’ satu dan lainnya. Bukankah pria dan wanita diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi? Rasa hormat dan saling menghargai yang baik dan benar ini sangat berdampak pada perkembangan jiwa anak-anak yang menjadi generasi masa depan Indonesia. Bukankah semuanya berawal dari lingkup terkecil, yakni keluar?

Saya sebagai wanita pun berharap lebih pada para pemimpin di Tanah Air agar ada segera tindakan nyata berupa perlindungan dan penyelesaian adil dari Pemerintah terhadap para korban tindakan kekerasan dalam segala aspek.  Siapapun korbannya! Baik wanita maupun pria. Jika dikaitkan dengan gender wanita, faktanya banyak wanita korban kekerasan tidak mendapatkan pembelaan yang layak. Adanya UU Nomor 23 tahun 2004 hanya berdampak pada peningkatan pelaporan semata. Namun, apakah pelaku mendapatkan balasan setimpal dan adil? Hanya rumput yang bergoyang yang mampu menjawabnya!

Dan, cita-cita Ibu RA Kartini berikut pahlawan wanita Indonesia lainnya pun hanya punya mimpi sederhana, yakni kaum wanita jangan mau ’jadi korban’, harus mampu berkontribusi pada pembangunan tanpa melupakan kodrat kewanitaannya. Bahkan, perjuangan keadilan dan kesetaraan gender di Indonesia sudah berlangsung jauh lebih dahulu sebelum maraknya perjuangan kesetaraan dan keadilan gender di negara-negara Eropa. Bedanya dengan Tanah Airku, hanya pada Law Enforcement-nya yang adil, benar dan sistematis terhadap pelaku tindakan pelanggaran hak asasi atau kriminal dan korbannya.

Ya…sudah saatnya memang saya, wanita dan rakyat Indonesia tidak mau jadi korban!

Bukan salah saya dan media massa di Indonesia, jika polah anggota DPR dikritik tajam dan selalu disorot. Mengapa? Karena kami melihat sudah terlalu banyak oknum anggota dewan yang merusak kepercayaan kami. Media massa punya kewajiban sosial pada masyarakat Indonesia untuk berkata benar.

Dan, sayapun pulang termenung di tunnelbanna mengingat semua dalih anggota dewan yang terhormat itu dengan perut menahan lapar. Saya menolak makan bersama dengan anggota dewan tersebut, tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Kedubes RI untuk Swedia yang bersusah payah menjamu masyarakat Indonesia.

Saya sedih karena saya yakin dengan melihat bahasa tubuh mereka (anggota dewan tersebut) sepertinya hati mereka sudah membatu. Saya melihatnya dari reaksi sang wakil ketua yang menjadi juru bicara dalam menyikapi pertanyaan dan pernyataan saya yang tidak disangka-sangka. Jika bicara kesetaraan dan keadilan gender, ada satu masa pada percakapan itu yang menantang saya untuk ’berani berjuang’ dan tidak mau dipandang sebelah mata hanya karena saya wanita. Semuanya tampak jelas terasa dari cara dia memandang dan membalikan pernyataan atau pertanyaan saya yang dia pikir..saya hanya wanita yang tidak patut digubris. Saya tidak peduli..yang terpenting dia harus tahu karena saya adalah individu yang bebas.

Jadi, kesetaraan gender dan keadilan gender itu untuk siapa?

20120502—Stockholm-Sweden@tututhandayani

Saya mantan wartawan Majalah SWA (www.swa.co.id) –sebuah majalah ekonomi dan bisnis ternama di Indonesia.



(Note: Tugas perdana untuk membuat laporan pandangan mata kunjungan studi wisata ke Riksdagen, gedung parlemen Swedia yang disertai riset data. Ya..belajar bikin artikel dalam bahasa Swedia :) )

Riksdagshuset by tutut

Den 11 maj 2012 besökte jag Sveriges Riksdag. Jag och 20 kompisar som har studerat svenska på SFI Sundbyberg Vuxenutbildning åkte till Riksdagshuset på Helgeandsholmen i Stockholm.  Vi tog tunnelbanna mot Kungsträdgården från Hallonbergen Centrum klockan var 8.15 på förmiddagen. Vi var glada för att vi hade studiesbesök. Pirrko Nerlundborsholm är mina lärare som hanterade studiesbesök.

Vi klev av på Kungsträdgården Station och sedan gick till Riksdaghuset. Pirrko visade oss många historika svenskabyggnader, till exempel: Kungliga Operan, Gustav Adolfssstaty, Statsministernshuset, Stockholms Stadshus och Rosenbad. Statsminister arbetar på Rosenbad. Vi kom till Riksdaghuset klockan kvart över nio och väntade omkring 10 minuter framför huvudentren.

Riksdagensbesök var jätteviktigt för oss. Vi kunde lära som svenska demokratin och i riksdagen arbete. Vi vet hur beslutas om lagar och statsbudgeten.  Folk som bor i Sverige eller turister kan besöka  Riksdaghuset.  I början måste vi lämna våra väskor på förvaringsbox efter en särskild gransbevakning. Vi betalade 10 kronor för att hyra förvaringsbox. Vi kunde ta bilderna men ingen blixt.

Riksdagshuset invigdes 1905. Folk kallas riksdaghuset på Riddarholmen som Gamla Riksdaghuset. Gamla bygnaden har blivit omoderna. Så, regeringen bestämt att utöka Riksdaghusets området och byggd nya huset på Helgeansholmen. I 1983 uptarde den tidigare Riksbank som har fungerat nya riksdaghuset i dag. Mellan gamla och nya byggnader skiljs av vatten kanaler.

Flera tusen människor besöker riksdagen varje år. De kommer av olika anledningar. Riksdagen är öppen för alla som vill delta i en debatt eller offentlig utfrågning, en guidad tur, en studieresa och för många andra evenemang. Men huvudorsaken som folk kan besöka Riksdagen för att svenska regeringen vill visa svenska demokratin, enligt Lovai Wafai, vår guide. Varför? Kanske, folk som bor i annan länder besöker ingen deras riksdagen.

Lovai Wafai som vår guide berrätade att Sverige har haft åtta partier. Patierna väljs för en mandatperiod på fyra år. Efter valet 2010 representerar de 349 ledamöterna i Sveriges riksdag.  Riksdagen har talmannen.   Talmannen är riksdagen främsta företrädare och leder riksdagen arbete. Han visade oss som Plenisalen. Plenisalen är en av jätteviktig kammaren. Den är riksdagens hjärta som platsen när ledamöterna debatterar och fattar beslut. Det finns en speciel pallen var folk eller press kan se ledamöterna debatterar och fattar beslut.

Efter plenisalen, vi gick till trapphallen som ligger på Östra riksdaghuset och ligger granne med Slottet. Den används till exempel när kungen öppnar riksmötet varje år i september. Om kungen och  hansfamiljer ska komma in till Riksdaghuset, de genom trapphallen. Kung Carl Gustaf är Sveriges statschef och är den person som öppnar riksdagen.

Vi såg gamla kammaren riksdaghuset också som kallas andrakammarsalens. Den ligger på Östra riksdaghuset.  Den är jättevacker kammaren. Och sedan, vi gick till talmans kammaren och lite kammaren när riksdagsledamöterna från alla riksdagspatierna är med i ett utskott. Utskotten arbetar med frågor som riksdagen ska besluta om.

Och sedan, Lovai Wafai visade oss sammanbindningsbanan i Östra riksdaghuset. De finns bägge kamrarna kvar från tvåkammarriksdagens tid. I dag fungerar den som riksdagens stora festrun. I mitten finns ett kupolformat innertak inramat av 24 länsvapensköldar.  Jag såg ledamotsrum också. Om jag behöver information av riksdag, kan jag låna bocker och läsa riksdagstrycket på Riksdagsbiblioteket. Det är ett av största specielbibliotek för samhällsvetenskap och ett av få parlamentsbibliotek i världen som är öppna för allmänheten.

Den sista kammaren är bankhallen som ligger i Västra riksdaghuset. Den är en central möteplats i riksdagen. Vi kan finna post, informationsdisk och restauranger.  Nammet minner om tiden då detta var Riksbanken hus. Innan jag kom ut Riksdaghuset, jag såg många riksdagmedlemmars brevlådor.

Det var roliga besök  :)

(copyright av tututhandayani, 2012)



{2012/04/26}   Sisi ‘Venus’ Saya

Keputusan pindah dan menetap di Stockholm membuat saya ‘sedikit’ kesepian dan kehilangan kebersamaan dengan kawan wanita. Bukannya saya tidak bisa mendapatkan kawan wanita baru yang berasal dari Indonesia, Swedia atau negara lain di sini. Saya punya banyak kawan wanita baru, namun butuh waktu untuk menemukan yang punya kesamaan pola pikir, minat dan kepentingan. Semuanya butuh waktu dalam proses penyesuaian hidup bermasyarakat di sini. Bisa dikatakan, mudah-mudah sulit untuk mendapatkannya.

Ada benarnya seorang ahli mengatakan Man from Mars, Woman from Venus. Mengapa? Karena pada dasarnya pria dan wanita itu berbeda dengan segala kelebihan dan kelemahannya. Banyak hal dalam hidup ini yang hanya bisa dimengerti oleh kaum pria. Begitu pula sebaliknya. ‘Kesamaan bahasa’.

Ada banyak kegiatan yang dilakukan bersama oleh kaum wanita—kadang sulit dimengerti oleh kaum pria. Contohnya, kegiatan ‘rumpi bareng’ dengan berbagai topik yang bisa memakan waktu berjam-jam. Terlebih jika dibarengi dengan kegiatan   nyemil pengganan ringan dan minum teh atau kopi.

Begitupula, kegiatan window shopping—keliling pusat perbelanjaan—yang bisa dilakukan sejak jam buka sampai tutup. Itupun belum tentu ada barang yang dibeli. Nongkrong atau duduk-duduk santai di kafe dalam mal tersebut sudah pasti. Sebuah kepuasan tersendiri menghabiskan waktu melihat, memegang dan mencoba berbagai barang bagus di berbagai toko di mal. Keliling sampai kaki rasanya mau copot saking lelahnya.

Jika ada barang yang ingin dibeli, pergi bersama seorang kawan baik juga menjadi sesuatu yang berharga. Setidaknya ada pihak yang bisa dijadikan tempat meminta saran atau ‘pembenaran atas pilihan barang yang sudah dibeli’ :) Saat beragumentasi tentang saran-kritik pilihan barang itu menjadi sebuah momen kebersamaan. Bahkan, bisa mempengaruhi kelanjutan hubungan perkawanan di antara kedua wanita tersebut :p Butuh keahlian khusus untuk bisa memberikan saran-kritik yang tidak menyinggung hati seorang wanita :D Apalagi jika terkait dengan pertanyaan: ”Cantik, ga? Jelek, ya? Kegemukan, ya? Pantas, gak?”.

Semakin puas jika berbelanja barang idaman dengan harga diskon. Atau, berhasil menawar harga barang ‘serendah mungkin’ sesuai versi dan anggaran masing-masing. Lalu, kami pun membahasnya sambil menyeruput minuman ringan di kafe. Bila perlu, dibarengi ‘ajang unjuk hasil belanjaan’ yang diimbuhi dengan berbagai komentar dimana bagi orang lain yang melihat kami itu terkesan berisik :D

Ya, siapapun dia—selama berjenis kelamin wanita—di belahan bumi manapun ‘bisa kalap’ saat berbelanja. Terlebih saat ada pesta diskon. Bahkan sebagian dari kami sudah hafal hari, bulan, tanggal dan lokasi pusat perbelanjaan yang menggelar pesta diskon. Dan, janganlah kaum pria mencoba menasehati kami saat ‘pesta diskon’ :D Kami bisa tiba-tiba menjadi individu yang sangat acuh pada semua nasehat yang katanya demi kebaikan kami. Semua kata-kata masuk telinga kiri, keluar dari telinga kanan. Kami tidak peduli lagi jika ada yang bilang pesta diskon itu hanyalah taktik para peritel

Selain itu, alasan kami lebih senang berbelanja dengan kawan wanita karena kami bisa  tiba-tiba merasa ‘sebal’ jika saat meminta saran pada pasangan pria tentang pilihan barang kami, serta merta kami mendapat ‘nasihat’ tentang apa perlu dan fungsi barang tersebut. Padahal, jujur kata, meminta nasihat itu belum berarti membeli :-D  Nah, alih-alih mangkel dengan pasangan, lebih baik pergi sendirian atau bareng kawan wanita.

Semua itulah yang sekarang saya rindukan. Kebersamaan bersama kawan-kawan wanita saya.

Jadi, sesuatu banget jika saya bertemu dengan seorang wanita yang seiring berjalannya waktu bisa menjadi kawan saya. Punya kesamaan minat, pola pikir dan sebagainya. Bahasa sederhananya, nyambung saat diajak berbicara dan berpikir.

Happy Day :)



{2012/04/25}   Harus Bisa

Menyerah?

Bagi saya tidak ada kata menyerah sekalipun sangat berat dijalankan. Mungkin lebih tepat harus bersabar saja. Ya, saya bisa dikatakan individu yang ‘tidak sabaran’ tetapi bukan juga individu yang suka ‘instan’. Saya tetap percaya pada sebuah proses. Saya sangat menghargai sebuah proses yang harus dilalui. Namun, ketidaksabaran itu hanya terletak pada ‘panjang-pendek’ nya jangka waktu proses tersebut. Seringkali saya suka ingin ‘melompat’ beberapa tahapan sebuah proses. Apalagi jika pelaksana proses itu ‘terkesan bertele-tele’.

Saya ‘cukup bangga’ dengan pencapaian kemampuan berbahasa Swedia saya. Untuk pendatang yang baru menetap 10 bulan di negaranya Björn Borg ini, ‘berani’ atau lebih tepatnya nekat bercakap-cakap dalam bahasa Swedia dengan sesama pendatang di Svenska För Invandrare (SFI)–sekolah bahasa Swedia yang disediakan khusus oleh Pemerintah Swedia untuk para pendatang dengan status penduduk tetap yang memiliki nomor wajib pajak (personnummer, red)– atau tetangga apartemen, banyak yang mengatakan saya ‘hebat’ namun  saya tetap harus terus memperbaiki diri. Tidak mungkinlah saya membandingkan diri dengan pendatang yang sudah bertahun-tahun tinggal di Swedia—itupun ada juga yang belum terlalu fasih.

Ketika seorang kawan bertanya alasan ketekunan saya belajar bahasa Swedia, jawabannya sangat sederhana yakni mampu berbahasa Inggris dengan fasih di Swedia itu sangat tidak cukup jika ingin ‘survive’ hidup di negara ini. Sekalipun banyak orang Swedia mampu berbahasa Inggris, namun bercakap-cakap dengan bahasa mereka itu lebih baik. Khususnya untuk memudahkan dalam penerimaan dan adaptasi dengan lingkungan sosial dan budaya yang bakal mewarnai keseharian saya.

Sebetulnya sama saja jika ada orang asing yang ingin menetap di Indonesia. Sayangnya, sebagian orang Indonesia sendiri bisa disebut ‘tidak cukup bangga’ dengan bahasa Nasionalnya. Masyarakat Swedia sangat menyadari pentingnya mampu berbahasa Inggris sebagai bagian dari penduduk dunia, alias bahasa internasional. Namun, bahasa Swedia tetap sangat penting dalam keseharian kehidupan mereka di segala sektor, formal maupun informal.

Seharusnya, berbahasa Inggris yang fasih di Indonesia juga tidak cukup buat pendatang yang menetap di Tanah Air-ku.  Bahkan, bila perlu mereka juga ‘diwajibkan secara tidak sengaja’ atau dengan kata lain ‘mau tidak mau, harus berbahasa Indonesia’ dalam keseharian mereka di Indonesia.

Saya sulit mengutarakannya dengan kata-kata bagaimana situasi dan kondisi negara Swedia berikut masyarakat umumnya (mengingat saya hanya wanita biasa yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga) seperti ‘memaksa’ saya untuk bisa menguasai bahasa sini. Ambience keseharian kehidupan masyarakat Swedia membuat siapapun ‘tertantang’ untuk mempelajarinya segera jika mau ‘survive’ hidup di sini. Berdasarkan pengalaman banyak kawan sesama pendatang dari berbagai negara, bisa-bisa timbul ‘rasa frustrasi’ jika tidak menguasainya. Ya, untuk pemula seperti saya, setidaknya percakapan sederhana saja dahulu.

Pastinya, saya tidak mau menyerah dengan ‘keterbatasan’ bahasa Swedia saya saat ini!

Happy Day :)

 

 

 



et cetera
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.